Dimensi Sosial dalam Pernikahan

Salah satu bab yang dituliskan oleh Ustadz. Salim A. Fillah dalam buku beliau, Bahagianya Merayakan Cinta, adalah aspek hubungan baik dengan tetangga. Ya, benar, pernikahan tak semata bicara tentang hubungan antara suami istri, ayah – ibu anak, keluarga si pria dan si wanita. Tapi jauh lebih luas dari itu bahwasanya Islam mengatur aspek hubungan dengan tetangga.

Aspek inilah yang barangkali seringkali luput dan kita lupakan. Membangun hubungan baik dengan tetangga pun tak kalah penting. Bayangkan se-rukun apapun kehidupan rumah tangga kita, sebaik apapun hubungan kita dengan keluarga, seraket apapun kita dengan mertua, namun ketika kita tidak bisa memuliakan atau memiliki hubungan buruk dengan tetangga saja, maka siapa sih yang merasa nyaman? Tentu saja itu sudah mengganggu kenyamanan kita di rumah sendiri.

Begitu besarnya memuliakan tetangga, hingga Rasulullah SAW mengabadikan dalam sabda Beliau yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim,

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya”

Bahkan Malaikat Jibril pun senantiasa menasihati Beliau tentang kehidupan bertetanga.

“Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris” (HR. Bukhari & Muslim)

Apalagi jika tetangga kita itu seorang muslim, maka ia juga justru akan mendapat hak yang sama dengan seorang muslim yang lainnya, hak sebagai saudara kita juga karena pada hakikatnya sesama muslim itu bersaudara.

Maka pemaknaan pernikahan bukan lagi masalah sesempit rumah tangga. Namun ia luas, sebab dengan pernikahan kita harus siap menebar kebermanfaatan minimal ke tetangga sekitar rumah kita. Makna doa “Barakallahu lakuma…” yang berarti semoga Allah memberkahi kalian berdua, sesungguhnya tidak sesempit yang kita kira. Bukankah keberkahan itu akan terasa berkah jika kebermanfaatannya dirasakan oleh orang banyak? Ya, lagi-lagi oleh tetangga kita sendiri.

Semoga kelak pernikahan bukan menjadikan hubungan baik kita dengan tetangga justru menjadi renggang. Pernikahan sudah seharusnya membawa kebaikan. Dan semoga rumah kita kelak bukan rumah kita sendiri. Rumah tempat di mana tetangga dapat bernaung. Rumah di mana masyarakat merasa nyaman. Bukan perkara besar kecilnya, bukan pula perkara banyak makanannya. Semata-mata rumah yang senantiasa dinaungi keberkahan oleh Allah, sehingga di sekitar kita pun merasakan berkah yang sama.

Sebab pernikahan bukan semata bicara tentang dimensi pribadi. Pun demikian kehidupan tak semata hablumminallah, namun juga hablumminannaas.

Rumah, Selepas Subuh
Setelah semalam curhat dengan Mama
– @faizunaa –

Categories: Tulisan | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: