Karena Laki-Laki Tetaplah Laki-Laki

Tahukah kamu wahai perempuan? Memang masih lebih sulit menjadi perempuan. Sebab engkaulah nanti yang akan mengandung, menahan letih di setiap aktivitasmu, dan menahan sakitnya melahirkan yang katanya laksana hidup dan mati kau perjuangkan. Sebab itulah Rasulullah pun ketika ditanya siapa yang harus dihormati, maka ibu ibu ibu. Sebuah nama yang tentu berasal dari golonganmu.

Tapi, tahukah kamu menjadi lelaki tidak semudah yang kau bayangkan. Ada kalanya kamu ingin segera meminta kepastian. Kamu pun sudah mengatakan kesiapan. Telah kamu katakan pula kau siap hidup susah, hidup apa adanya, dengan gaji laki-lakimu kelak berapa pun, asal kau bisa hidup bersama. Membangun cinta bukan di atas harta, tapi di bulir-bulir keringat perjuangan bersama.

Namun lelaki tetaplah lelaki. Ia pasti tetap berpikir keras. Bagaimana agar kamu tidak usah hidup susah. Bagaimana agar setidaknya urusan makan dan minum bisa tercukupi. Bagaimana agar ia senantiasa mampu menafkahi. Yang paling terpenting adalah bagaimana agar harta yang ia dapatkan untuk menafkahimu berasal dari sumber yang halal.

Ya, benar menjadi lelaki tidak semudah yang kau bayangkan. Lelaki baik selalu pernah terlintas dalam pikirannya. Ketika kamu meminta segera untuk menemui ayahmu, lelaki selalu berpikir. Siapakah aku? Sudah pantaskah aku? Sudah siapkah aku? Sekalipun kamu berupaya berkali-kali meyakinkannya, selalu ada pikiran yang terlintas.

Lelaki seringkali berpikir siapakah dirinya. Yang tak pernah merawatmu semenjak kamu kecil. Yang tak pernah merasakan pedih dan susahnya menenangkanmu kala menangis dahulu. Lalu tiba-tiba ia harus datang kepada ayahmu dan meminta kamu untuk hidup bersamanya, melayani segala hajatmu, hingga harus membuatmu terpisah dari ayah dan ibumu.

Lelaki seringkali berpikir sudah pantaskah dirinya. Terkadang ia malu denganmu yang barangkali segudang prestasi dan pencapaianmu. Terkadang ia malu dengan strata sosialnya yang tak setara denganmu. Sekalipun kau katakan kau menerimanya apa adanya, namun lelaki tetaplah lelaki. Ia sadar akan perannya yang tertuliskan dalam Al-Quran. Ar-Rijaalu qowwamuuna ‘alannisa’, bahwa lelaki adalah pemimpin bagi perempuan. Dan tentu saja, lelaki senantiasa berpikir bahwa pemimpin, tentu harus lebih dari yang dipimpin,

Lelaki seringlakli berpikir sudah siapkah dirinya. Seringkali masalah utama adalah masalah finansial. Kau pun pastinya juga juga telah meyakinkannya, Lagi lagi karena lelaki tetaplah laki-laki tetaplah laki-laki. Tentu ia tidak mau melihatmu hidup menderita. Hidup susah di bawah kondisi yang tak pasti. Ia selalu berjuang, seperti dahulu bagaimana ayah dan ibumu membahagiakanmu.

Karena lelaki tetaplah laki-laki Ada hal-hal yang harus ia persiapkan sebelum benar-benar memintamu hidup bersama. Ada hal-hal yang terkadang sebenarnya kecil, namun ia sendiri yang memperbesarnya. Bukan karena ia melebih-lebihkan, semata-mata karena ia tidak ingin bersamanya justru kamu kehilangan kebahagiaan Seperti yang diberikan kedua orang tuamu dulu kepadamu.

Ada hal-hal yang terkadang tak mampu kau pahami. Namun percayalah ia melakukannya semata-mata untukmu. Untuk membahagiakanmu kelak. Untuk memberikan yang terbaik kepadamu. Seperti apa yang telah diberikan kedua orang tuamu kepadamu.

– Mushonnifun Faiz S –

Categories: Tulisan | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: