Tulisan Ramadhan #28 : Semua Kembali KepadaNya

Tulisan ini adalah tulisan ke 28/30 pada Ramadhan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ?

Laksana air, terkadang ia tinggi. Berada di langit. Dalam bentuk awan. Beterbangan dari satu tempat ke tempat lainnya. Lalu jatuh menjadi hujan. Terkadang ia rendah. Berada di dalam tanah. Meresap ke akar-akar pohon. Mengalir dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Lalu kala matahari membara, ia naik. Pergi mengangkasa. Menjadi awan. Agar menghalangi matahari menguapkan seluruh air di bumi.

Demikinlah hidup kita barangkali. Terkadang kita ada di posisi teratas. Posisi puncak. Posisi yang sukses untuk menggapai kebaikan. Posisi yang barangkali tak semua orang mampu mencapainya. Posisi yang didamba. Padahal sesungguhnya di mataNya tak ada apa-apa. Pun demikian terkadang kita berada di posisi terbawah. Posisi yang tidak diinginkan oleh semua orang. Posisi yang barangkali senantiasa dihindari. Namun di posisi itulah kita harus bangkit. Kembali kepadaNya. Ya, lagi-lagi kembali kepadaNya. Bahwa semua tidak terlepas dari qadrullah. Ketetapan Allah.

“Ialah orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran: 191)

Demikianlah perintah Al-Quran. Bahwa di manapun, kapan pun, dalam kondisi apapun kita harus senantiasa mengingatNya. Senantiasa mengembalikan segala urusan dan kejadian di dunia ini kepada Allah. Bukankah Allah sebaik-baik pelindung ? Bukankah Allah sebaik-baik tempat kembali?

Pun demikianlah hakikat ramadhan. Sebab ramadhan adalah bulan perjuangan. Perjuangan untuk membakar segala dosa-dosa. Perjuangan untuk meraih kemenangan yang sesungguhnya. Terlepas dari sebuah hari yang nantinya disebut hari kemenangan, pada akhirnya di hari kemenangna itu kita akan tetap harus kembali. Kembali kepada Allah. Kembali merapatkan barisan laksana Ramadhan dulu. Sebab jika ramadhan adalah bulan pembiasaan, tentu amat rugi jika kita tak mampu beribadah lebih baik lagi. Agar kemenangan yang digaung-gaungkan saat lebaran adalah kemenangan yang sesungguhnya. Bukan kemenangan yang semu.

Hari-Hari Terakhir Ramadhan
11.32

Categories: Islam | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: