Tulisan Ramadhan #19 : Mengejar Ketertinggalan

Tulisan ini adalah tulisan ke 19/30 pada Ramadhan. Mohon maaf jika ada keterlambatan, sebab beberapa waktu yang lalu situs masih belum normal karena dibobol. Insya Allah akan dipost untuk yang selanjutnya di beberapa hari ke depan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ?

Pernahkah kita merasa tertinggal? Tertinggal kereta api? Pesawat ? Atau sesuatu yang kita miliki pernah tertinggal? Misal hp ? Jam tangan? atau benda-benda yang lainnya. Tentu saja kita sebagai manusia biasa pernah merasakannya. Merasakan ketertinggalan dari barang-barang, atau jadwal yang sudah seharusnya ditetapkan. Alasannya pun bermacam-macam. Entah lupa jika barang-barang atau misal kesiangan, lupa akan waktu ketika kita tertinggal alat transportasi masal.

Apa yang kita rasakan? Tentu saja tidak nyaman. Seyogianya waktu yang sudah kita atur sedemikian rupa untuk melakukan aktivitas harian, pada akhirnya berantakan. Bahkan tak jarang menimbulkan efek domino. Hingga berimbas pada kegiatan-kegiatan dan aktivitas lainnya. Ujung-ujungnya seringkali kita mengeluh. “Duh coba tadi lebih pagi”. Atau “Duh, coba tadi barang-barangnya dicatat dan disiapkan”. Setelah itu lagi-lagi urusan yang seharusnya selesai dalam satu hari akhirnya tertunda. Baru diseleseikan esok hari.

Namun tak jarang ada orang yang justru terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Ia bisa dikatakan mungkin pelupa, namun ia mampu mengejar ketertinggalannya dengan cepat. Walaupun dengan “ngos-ngosan” akhirnya ia sampai pada ritme yang sama. Ketertinggalan yang ia biasakan justru sering menjadi kekuatan ajaib bagi dirinya yang anehnya justru kekuatan seperti itu muncul ketika kondisi terpepet.

Itu baru ketertinggalan tentang urusan dunia. Bagaimana jika ketertinggalan urusan akhirat? Urusan shalat? Urusan tilawah? Urusan Sedekah? Apakah kita merasakan hal yang sama ketika kita merasakan ketertinggalan tersebut? Semoga kita merasakan bagaimana ketidaknikmatan tertinggal jamaah shalat. Demikian pula ketika tilawah yang kita canangkan di awal ramadhan dahulu justru kita sekarang terseok-seok mengejar ketertinggalannya.

Shalat dan tilawah, ah entah mengapa saya menjadi teringat pesan dari seorang sahabat saya, Muhammad Fajrin, yang sekarang sedang melanjutkan pendidikannya di Universitas Madinah. Ia berpesan dahulu sebelum berangkat, yang terpenting jangan lupakan shalat dan tilawah. Kedua hal itu adalah kunci kebahagiaan jika kita mampu menjalaninya dengan ikhlas, dengan sungguh-sungguh. Dan tentu yang terpenting jangan sampai tertinggal di kedua aspek ini. Khususnya yang laki-laki untuk shalat berjamaah di masjid.

Entah mengapa semoga kita merasakan hal yang sama-sama tidak enaknya ketika tertinggal dalam shalat. Ketika tertinggal dalam tilawah, tertinggal dalam kebaikan-kebaikan yang lainnya. Sebab kita tidak pernah tahu apakah masih ada waktu dariNya untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Semoga sepuluh hari terakhir ini kita diberikan kekuatan dan kesempatan untuk mengejar ketertinggalan jika memang kita di posisi tertinggal.

Note to My Self
Masjid Ulul Azmi UNAIR
21.34

Categories: Islam | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: