Tulisan Ramadhan #16 : Menulis untuk Ke(tidak)abadian

Tulisan ini adalah tulisan ke 16/30 pada Ramadhan. Mohon maaf jika ada keterlambatan, sebab beberapa waktu yang lalu situs masih belum normal karena dibobol. Insya Allah akan dipost untuk yang selanjutnya di beberapa hari ke depan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ?

Entah mengapa saya ingin sedikit menuliskan tentang hal ini. Ada beberapa orang yang bertanya,

“Iz, ngapain sih tiap hari menulis terus?”. “Iz apa nggak bosan?”. “Iz, kok bisa sih nulis terus tiap hari?”.

Saya lebih sering menjawabnya karena hobi, atau sarana refreshing atau yang lainnya. Menulis bagi saya sudah saya biasakan dahulu semenjak SMP saat pertama kali di blog, dan sebelum itu pun saya suka menulis walupun tidak pernah terpublikasikan. Entah itu di komputer milik papa, atau di buku-buku tulis, atau kertas-kertas yang tak terpakai di rumah.

Ada sebuah sesi materi kuliah online yang menarik dari Bang Azhar Nurun Ala beberapa bulan yang lalu yang sempat saya ikuti. Ya, judul kuliah online itulah yang saya jadikan judul tulisan saya ini. Menulis untuk Ke(tidak)abadian. Barangkali hal ini pulalah yang mendasari mengapa saya tetap semangat menulis di tengah kesibukan apapun.

Pun demikian dengan sebuah pepatah yang mengatakan bahwa dengan bicara kau akan didengar, namun dengan tulisan kau akan dikenang. Para ulama’ terdahulu, para ilmuwan, sufi, mereka pun juga menuliskan buah pemikiran mereka sehingga ilmu tersebut menjadi amal jariyah mereka yang terus mengalir sepanjang zaman sekalipun mereka telah tiada. Begitulah kekuatan sebuah tulisan. Dengan tulisan pula kita mampu menuangkan gagasan dan mengubah hati seseorang insya Allah jika Allah menghendaki.

Hal itu juga sesuai dengan yang tertulis di judul, bahwa kita menulis karena kita tidak abadi. Ya, sekalipun segala sesuatu di dunia ini bersifat fana’ atau rusak, namun setidaknya tulisan kita akan bertahan hingga akhir zaman. Karena jelas bahwa umur tulisan kita akan jauh lebih panjang dibandingkan dengan umur kita sendiri. Begitulah barangkali alasan sederhanaku mengapa harus menulis.

Barangkali memang tulisan-tulisan ini tak sebagus dan seberat tulisan para ilmuwan dan para ulama’. Namun itu tidak menjadi alasan dan halangan untuk tetap menulis. Menulis apa yang bisa ditulis selagi jemari ini masih diberikan kesempatan untuk menari di atas keyboard. Sembari otak dan pikiran ini masih diberikan ilham untuk berpikir jernih. Menulis barangkali sebagai sarana bersyukur. Bersyukur atas segala kenikmatan yang diberikan Allah SWT akan pikiran dan segala ilmu-ilmu dariNya.

Maka menulislah hingga jemari ini nanti tak lagi sanggup menulis. Menulislah hingga pikiran ini nanti tak sanggup lagi berpikir. Menulislah hingga segala ilmu yang kau dapat telah kau tuliskan, walaupun pasti takkan pernah selesai untuk ditulis. Menulislah, hingga aksara-aksara itu yang semoga nanti menghantarkanmu menuju surga Allah.

Mengistiqomahkan diri,
Kamar Kos, sambil nunggu Rapat NLC PPSDMS

Categories: Islam | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: