Tulisan Ramadhan #15 : Ilmu yang Tak Bermanfaat

Tulisan ini adalah tulisan ke 15/30 pada Ramadhan. Mohon maaf jika ada keterlambatan, sebab beberapa waktu yang lalu situs masih belum normal karena dibobol. Insya Allah akan dipost untuk yang selanjutnya di beberapa hari ke depan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ?

“Ya Allah. Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah merasa kenyang dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR Muslim No. 6906 dan yang lainnya dengan lafaz-lafaz yang mirip)

Entah mengapa tiba-tiba pasca semalam menjadi suka merenungkan hal ini. Ya, semalam kebetulan saya tarawih di Masjid Al-Madina, di Pakuwon City. Penceramahnya adalah Ust. Abdullah Shahab, dan salah satu yang disinggung diantara keseluruhan ceramahnya yang membahas mengenai keterkaitan ilmu Al-Quran, Teknologi, dan Sains adalah hal ini.

Memasuki hari-hari terakhir di kampus, di tengah mengerjakan tugas akhir rasanya hal ini seakan menjadi sebuah perenungan. Selain mungkin perenungan biasanya yang menghantui adalah “pasca kampus mau ngapain?” , “mau kerja dulu atau S2”, dan kegalauan lainnya, maka ada sebuah hal yang sebenarnya jauh lebih mendasar akan hal ini. Akan kita kemanakan ilmu yang kita dapatkan di kampus? Akankah ilmu itu bermanfaat? Lalu jika bermanfaat akankah itu bermanfaat untuk diri sendiri atau mampu memberikan kebermanfaatan untuk orang lain?

Sudah seyogianya kita mulai memikirkan hal ini. Kebermanfaatan ilmu untuk masyarakat luas, sudah tentu entah mengapa kita memiliki “hutang” kepada masyarakat Indonesia. Tentu kita masih ingat saat mahasiswa baru dulu ketika dikenalkan tentang wawasan dunia kampus, wawasan dunia pergerakan mahasiswa bahwa tidak semua orang mampu menikmati status sebagai mahasiswa. Hanya sekian persen dari masyarakat Indonesia yang pernah mengenyam bangku perguruan tinggi. Pun demikian dengan murahnya biaya pendidikan dikarenakan ada subsidi dari uang rakyat yang digunakan.

Memoar-memoar itulah yang semestinya kita bangkitkan kembali ketika menapaki dunia pasca kampus nanti. Sudah seyogianya ilmu yang kita peroleh tidak hanya bermanfaat untuk sendiri, namun bermanfaat untuk masyarakat luas di sekitar kita minimal. Sebab itulah, doa di atas senantiasa dipanjatkan oleh para penuntut ilmu, sebab ketidakbermanfaatan ilmu justru dapat menjadi laknat Allah kepada kita semua.

Ketidakbermanfaatan ilmu bisa ditandai dengan hal yang paling mendasar. Adalah rasa takut kita kepada Allah. Bukankah Allah pemilik dari segala ilmu? Lantas bagaimana jika ilmu kita bertambah kita tidak bertambah takut. Hal yang sederhana seringkali terjadi. Manusia menguasai ilmu, lantas mempergunakan ilmu itu untuk kepentingan maksiat atau kejahatan. Sehingga ilmu, yang semestinya membawa keberkahan dan kemaslahatan justru menghasilkan dosa dan perpecahan.

Orang yang berilmu juga memang telah Allah janjikan akan mendapatkan kemuliaan di dunia. Namun yang terjadi seringkali dengan ilmu tersebut kita pada akhirnya berfokus mengejar kenikmatan dunia. Kenikmatan yang semu sebab sesungguhnya kenikmatan sejati adalah kenikmatan Allah di akhirat kelak. Bahkan kemuliaan itu membuatnya menjadi sombong dan angkuh. Hingga bukan berfastabiqul khairat tujuannya, namun berlomba-lomba mencapai sebuah kedudukan dengan tujuan pengakuan dari manusia yang lain. Astaghfirullah, semoga kita terjauhkan dari golongan orang-orang yang seperti itu.

Doa Para Penuntut Ilmu
Sumber : https://65.media.tumblr.com/e5b4bab3dc79675f79f536b2a6751499/tumblr_o5q7e4x0CV1qk70i6o1_540.jpg

Yah, teruntuk para penuntut ilmu, semoga kita tidak lupa untuk senantiasa memanjatkan doa tersebut dalam segala aktivitas kita saat menuntut ilmu, dalam setiap shalat kita, dan di waktu-waktu kita futur. Ibarat pepatah mengatakan hikayat padi semakin berisi semakin merunduk, begitulah hakikatnya orang menuntut ilmu, semakin berisi semakin ia rendah hati. Semakin ia membumi. Semakin ia merasa rendah di hadapan Allah SWT. Mari kita jadikan ilmu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, dan kita jadikan iman dan islam sebagai landasan kita utnuk berjuang di jalan Ilmu. Ada sebuah motivasi menarik dari seseorang yang menuntut ilmu,

Aku mencintai matematika, sebab aku paling benci kemunafikan. Matematika mengajarkan tentang kepastian. Satu di tambah satu di manapun juga hasilnya sama dengan dua. Sebab dari ilmu inilah aku bisa mengambil ibrah – Anonim, ceramah Ustadz Shahab semalam.

Senantiasa berusaha meluruskan niat,
kamar kos
08.46

Categories: Islam | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: