Tulisan Ramadhan #11: Anak-Anak (Kita Kelak)

Tulisan ini adalah tulisan ke 11/30 pada Ramadhan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ?

Tepat hari kamis kemarin, saya mendapat kesempatan mengisi kegiatan Pondok Ramadhan di MTsN I Malang, yaitu almamater saya dahulu. Saya masuk MTsN I Malang tahun 2006 dan lulus tahun 2009. Pada waktu itu saya sejujurnya saya merasa cukup berat. Sebab, baru H-2 dihubungi oleh Bu Rini, salah seorang guru saya. Namun entah mengapa saya merasa sungkan untuk menolak. Sebab di sekolah inilah saya dulu pernah menimba ilmu. Barangkali ini kesempatan untuk membalas jasa walaupun tentunya tidak sebanding dengan ilmu yang diberikan MATSANEWA kepada saya dahulu.

Akhirnya saya mendapatkan briefing singkat. Materinya tentang Character Building. *cukup susah juga ya kalau karakter building anak-anak SMP ini gimana*. Pada waktu itu para guru agama menjelaskan latar belakang pentingnya materi ini.

B : Dek, minta tolong ya dikasih materi yang bisa menyadarkan anak-anak MTs.
F : Oh inggih Bu, memangnya kondisi adik-adik sekarang gimana Bu?
B : Ya banyak Iz. Salah satunya ya itu Drakor yang di copy-copy. Drama Korea. Malah sekarang ada ekskul dance segala?
F : Waduh ternyata Drama Korea udah sampai anak SMP ya sekarang Bu ==”. Hah MTs ada ekskul dance………
B : Iya Iz, serba salah emang, tapi daripada nggak terwadahi kan malah nggak bisa dipagari nantinya
F : Ada kebiasaan yang lainnya Bu ? Yang mungkin bisa saya angkat besok?
B : Hmm ini Iz, misalnya ini : 1. Sepak Bola waktu mau Shalat buat yang Cowok | 2. Drama Korea | 3. Nggak Sopan Sama Guru| 4. Game Online | 5. Guru di sindir di Medsos dengan kata-kata kurang baik (Ghibah) | 6. Pacaran
F : …………………………
B : Iya sebenarnya drama korea nggak masalah Iz, tapi sering di Ma’had itu sampai pas waktu shalat dioprak-oprak, terus malamnya begadang nyeleseikan berbagai episode, akhirnya besok paginya ngantuk deh.
F : Oh iya..iya bu.. ada lagi Bu ?
B : Hmm ini Mas Faiz, yang jelas Pak Kamad (Kepsek) menghendaki biar anak-anak bisa lanjut ke madrasah yang berbasis agama. Kalau nggak, harapannya bisa mewarnai gitu di sekolah umum nanti. Kedua penyadaran diri bahwa bapak ibu guru dan ustadzh ma’had di MTs semua niatnya baik. Peraturan untuk kemaslahatan. Sooo jika ada yg kurang baik di anak-anak kemudian pihak skolah menyampaikan ke ortu itu bukan mengadukan tapi justru karena sayang kami kpd anak2. Ketiga Penyadaran JOMBLO is OKAY. Keempat seringkali mereka main-main ke plaza. Kelihatannya rame-rame ikhwan akhwat, padahal ternyata itu beberapa couple ._.
F : Masya Allah, semoga saya bisa menjawab semua ekspektasi itu nggih bu…

Entah pada waktu itu saya seolah merasa berat dengan amanah semacam ini. Saya kemudian merenung. Di sebuah sekolah agama saja masih ada kejadian-kejadian seperti ini. Lalu apakah yang salah ini sekolahnya, atau anak-anaknya, atau mungkin yang lainnya?

Pada waktu itu entah pikiran saya melayang-layang membayangkan kondisi anak-anak remaja zaman sekarang. Zaman telah begitu berubah. Perkembangan media sosial seakan menjadi sarana cuci otak bagi barat untuk melemahkan moral umat islam. Benarlah dalam kajian akademi peradaban yang diselenggarakan di Masjid Manarul Ilmi, ITS beberapa waktu yang lalu bahwa peradaban memiliki kata dasar adab. Ya, sekali lagi adab. Karena adab lah sebuah bangsa akan menjadi maju. Pun demikian dengan para Ulama’-Ulama’ terdahulu. Bahkan mereka lebih lama mempelajari bagaimana adab dalam menuntut ilmu daripada ilmu itu sendiri.

Kembali ke masalah anak-anak. Fenomena sekarang yang terjadi barangkali anak-anak itu mungkin anak-anak yang kurang mendapat perhatian orang tuanya. Sekolah seolah menjadi pusat pendidikan dan pada akhinrya banyak sekolah yang menerapkan sistem full day school, masuk dari pagi hingga sore. Sebab salah satu alasan kadang orang tua memasukkan ke situ adalah karena sibuknya mereka bekerja dari pagi hingga sore, maka anak dicarikan kegiatan.

Hari itu saya belajar bahwa pendidikan sesungguhnya adalah dimulai dari keluarga. Sekolah hanya menawarkan pendidikan ilmu. Namun adab, akhlak, perilaku semua dimulai dari keluarga. Dimulai sejak kecil. Dimulai sejak pertama kali bayi itu terlahir di dunia. Bahkan dimulai sejak kita pertama memilih seorang wanita atau pria yang akan menjadi pendamping hidup kita.

Bahwa orang tua adalah sosok yang paling strategis dalam membina anak-anak nantinya. Ada yang bilang bahwa pendidikan di rumah adalah tanggung jawab ibu, sebab ada ungkapan Al-Ummu madrasatul ula’. Iya, memang benar, tapi maknanya adalah madrasah pertama. Bukan pertama dan seterusnya hingga membuat seorang ayah berlepas tangan dari tanggungjawab mendidik anaknya.

Al-Quran bahkan lebih banyak menyebutkan peran ayah terhadap mendidik anak-anaknya. Hal itu telah dilukiskan dalam Quran Surat Lukman, yang bercerita sosok Luqman Al-Hakim dalam mendidik anak-anaknya. Tepatnya pada ayat 13-19, Allah menuliskan melalui firmanNya tentang nasihat-nasihat Luqman terhadap anaknya. Bahkan di dalam Al-Quran terdapat 17 dialog yang mengajarkan mengenai pengasuhan anak. Dialog tersebut jika dirinci terdiri dari 14 dialog ayah + anak, 2 dialog ibu + anak, 1 dialog guru + murid. Hal itu sudah cukup menjadi bukti bahwa justru dalam konsep pendidikan islam peran ayah melebih sosok ibu dan guru.

Pun demikian ketika kita melihat sirah Rasulullah dahulu, bahwa bahkan ketika beliau sedang disibukkan dengan urusan menghadap Allah SWT (shalat), beliau tidak menyuruh orang lain (atau kaum perempuan) untuk menjaga kedua cucunya yang masih kanak-kanak, Hasan dan Husain. Bagi Nabi, setiap waktu yang dilalui bersama kedua cucunya adalah kesempatan untuk mendidik, termasuk ketika beliau sedang shalat.

Penelitian dari barat mengatakan bahwa dari ayahlah anak-anak akan belajar setidaknya tentang keberanian, tanggung jawab, realistis, dan bergaul dengan dunia luar. Sedangkan dari ibu-lah anak-anak akan belajar mengenai kepekaan rasa. Dan islam mengajarkan ada 3 hak yang harus dipenuhi ayah kepada anaknya. Memilihkan ibu yang baik, memberikan nama yang baik, dan memberikan pengajaran adab dan Al-Quran.

Yah, sekali lagi entah saya merasa bersykur atas kesempatan mengisi di MTs kemarin. Ada sebuah ibrah yang saya ambil dalam mengondisikan anak-anak dengan kondisi tersebut. Ada sebuah pelajaran mendalam. Tentang bagaimana anak-anak seharusnya diperlakukan dan dididik kelak. Bahwa tugas seorang ayah bukan hanya menafkahi namun lebih dari itu juga mendidik.

Kelak barangkali tugas berat itu akan menimpa kita semua para calon ayah. Tugas yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Dan tugas terdekat bagi kita semua (termasuk saya) sekarang adalah bagaimana memenuhi hak anak yang pertama. Memilihkan calon ibu yang baik untuknya.

Lab, sambil ngerjain Bab IV
Hari 11 Ramadahan 1437 H
21.45

Categories: Islam | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: