Tulisan Ramadhan #8 : Jalan Lurus yang Bengkok

Tulisan ini adalah tulisan ke 8/30 pada Ramadhan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan ?

Makna jalan lurus, sebagaimana dituangkan dalam Surat Al-Fatihah, adalah Jalan yang tiada penyimpangan di dalamnya. Begitulah Imam Abu Ja’far bin Juraih rahimakumullah berkata. Hal itu merupakan kesepakatan ahli tafsir dan para ulama’.

Sementara hakikat jalan lurus, adalah memahami kebenaran dan mengamalkannya. Sebab itulah, begitu agungnya makna ini. Sebab jalan lurus inilah yang nantinya akan menghantarkan hamba-hamba Allah ke surgaNya. Maka setidaknya dalam sehari, kita membacanya 17 kali. Tersebab kita memang membutuhkan petunjuk dariNya untuk dapat meniti jalan yang lurus.

Maka dari itulah, bersyukurlah kepadaNya. Bersyukurlah selalu jika engkau masih dalam naungan cahaya islam. Bersyukurlah engkau jika masih mendapatkan nikmat ini. Ya, benar, bahwa jalan lurus adalah salah satu nikmat besar dari Allah. Sebab jalan lurus, meruapakan pertanda kita memiliki iman kepadaNya. Sebab jalan luru, merupakan pertanda kita menjadi hamba-hamba terpilih yang mendapatkan nikmat dariNya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Si’di rahimahullah menjelaskan bahwa hidayah mendapat petunjuk shiratal mustaqim adalah hidayah memeluk agama Islam dan meninggalkan agama-agama selain Islam. Adapun hidayah dalam meniti shiratal mustaqim mencakup seluruh pengilmuan dan pelaksanaan ajaran agama Islam secara terperinci. Doa untuk mendapat hidayah ini termasuk doa yang paling lengkap dan paling bermanfaat bagi hamba. Oleh karena itu wajib bagi setiap orang untuk memanjatkan doa ini dalam setiap rakaat shalat tersebab betapa luar biasa maha dahsyatnya doa ini.

Maka berabad-abad yang lalu, Rasulullah SAW telah mewanti-wanti pada ummatnya, sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Ma’sud ra.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda,”Ini adalah jalan Allah,” kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda,”Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,” kemudian beliau membaca:
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. [Al An’am:153]

Jalan Lurus Yang Bengkok

Meniti jalan lurus barangkali tak semudah yang terkira. Ibarat kamu berada di atas papan keseimbangan. Yang papannya jelas-jelas sempit. Dan hanya ada satu jalan untuk menempuhnya hingga ujung jalan. Maka mau tidak mau, suka tidak suka kamu pasti akan melaluinya.

Di Jalan lurus yang Bengkok kita akan menyadari, betapa dalam setiap tujuan besar selalu ada rintangan. Barangkali itu godaan syetan, godaan nafsu, agar kita keluar dari track yang seharusnya ditempuh. Ibarat ketika kita di pegunungan, andai itu diibaratkan jalan lurus, barangkali keindahan pohoh, bunga, dan buah di sekitar jalan laksana godaan itu sendiri. Padahal tujuan kita adalah mencapai puncaknya. Dan di puncak, ada sesuatu yang jauh lebih indah, jauh lebih luar biasa dibandingkan di perjalananmu. Puncak jika diibaratkan surgaNya, tentu sama. Sama-sama kita tidak mengetahui apa kejutan langit kepada puncak gunung, apa pula kejutan Allah kepada hamba-hamba di surgaNya.

Di jalan lurus yang bengkok kita akan menyadari, bahwa ia membutuhkan kegigihan. Ibarat ketika kau bermain games balapan di jalan, tentu akan sangat membosankan jika trackmu hanyalah lurus ke depan. Sebab itulah ada tikungan, ada rintangan, ada bom bahkan untuk membuat permaiananmu seru. Dan ketika mencapai garis finish kau akan merasa sangat bangga, dan bahkan bersiap ke level yang lebih susah. Dan itulah laksana jalan lurus kehidupan kita. Akan banyak kebengkokan-kebengkokan yang akan kita temui di perjalanan nanti. Namun bukankah itu yang menjadikan ujian sebenarnya? Bukankah itu yang akan menjadi pembuktian nyata akan cinta kita kepadaNya?

Di jalan lurus yang bengkok. Semoga kita istiqomah di dalamnya. Semoga kita dikuatkan olehNya. Karena kebengkokan pada hakikatnya adalah ujian dariNya, benarkah hamba-hamba Allah ini mencintaiNya? Sebab jalan lurus, bukanlah jalan biasa. Jalan yang tentu akan ditempuh para nabi dan RasulNya kelak ketika kiamat menyeberangi Shiratal Mustaqim. Jalan yang bukan sembarang orang mampu melewatinya. Sebab lurus bukan berarti tinggal melesat secepat mungkin. Namun penuh dengan rintangan agar mencapai lurus yang sebenarnya.

Lab
22.33

Categories: Islam | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: