Tulisan Ramadhan #1: Jadikan “cinTA”mu Sebagai Jalan Cinta KepadaNya

Tulisan ini adalah tulisan ke 1/30 pada Ramadhan. Semoga mampu meningkatkan produktivitas dan menjadi amal kebaikan di Bulan Ramadhan. Silahkan di share jika bermanfaat, karena kebaikan akan terasa kebermanfaatannya jika dibagikan  

Barangkali ramadhan tahun ini adalah ramadhan terberat bagi saya. Sebab ramadhan tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ia hadir di periode awal liburan panjang. Semestinya lebih mudah, sebab ketika libur tentunya kita sejenak mengistirahatkan segala aktivitas yang biasanya justru membuat kita nyaris merasa tidak kuat untuk berpuasa. Namun justru di situlah tantangannya.

Apalagi ramadhan ini barangkali saya memiliki amanah bernama cinTA – pelesetan Tugas Akhir bagi mahasiswa tingkat akhir – . Di sinilah tantangannya. Fenomena kerja ala mahasiswa tingkat akhir biasanya adalah malam hari sembari begadang. Saya pun mungkin juga termasuk golongan ini. Masih ingat kemarin saat memasuki masa-masa seminar, begadang seakan menjadi hal yang biasa.

Namun hal inilah yang harus diubah. Bukankah Allah menciptakan siang untuk bekerja dan bertebaran di muka bumi ini? Sementara malam untuk berisitirahat serta bermunajat kepadaNya?

Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman,

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. Al-Jumu’ah : 11)

Maka jelaslah perintah Allah di atas jika ditafsirkan maka hendaknya kita tetap senantiasa produktif. Produktif dalam menghasilkan sesuatu. Produktif dalam bertindak dan beraktivitas. Maka dari itulah ada beberapa ‘kebiasaan’ yang harus kita waspadai dan semoga ramadhan ini benar-benar merupakan momentum untuk berhijrah menjadi lebih baik.

Pertama fenomena pagi yang diawali dengan sebuah fenomena bernama begadang. Ya, begadang saat tugas akhir seringkali membuat pagi tertidur pulas. Padahal Rasulullah selalu mendoakan agar pagi kita dilimpahi keberkahan. Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”

Demikianlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan waktu pagi dengan mendoakan keberkahan pada waktu tersebut daripada waktu-waktu yang lainnya karena pada waktu pagi tersebut adalah waktu yang biasa digunakan manusia untuk memulai amal (aktivitas).

Terus gimana dong? Seringkali barangkali kita menjadikan alasan malam itu lebih produktif, pagi lebih nyaman untuk tidur. Memang benar tidak salah barangkali. Saya sendiri pun mungkin juga merasakannya. Namun pernahkah kita mencoba melaksanakan perintah Nabi Muhammad SAW ?

Ada sebuah kebiasaan Rasulullah yang barangkali belum kita jalani, ialah mandi sebelum Subuh. Ya, aktivitas mandi air dingin ini ternyata mampu menyegarkan kembali pikiran. Riset kesehatan pun membuktikan bahwa hal itu benar dan baik untuk kesehatan. Sebab ketika pagi, banyak sekali gas O3 yang punya pengaruh positif pada syaraf, dan mengaktifkan kinerja otak dan tulang.

Pada intinya tetaplah tidur di malam hari walaupun secara kuantitas disedikitkan. Lalu bangunlah di sepertiga malam terakhir, awali dengan mandi sembari melaksanakan Shalat malam. Tidak usah banyak-banyak, yang penting istiqomah setiap hari. Sembari menunggu adzan subuh, bisa diisi dengan tilawah, atau membuka laptop untuk mengerjakan tugas akhir. Alhamdulillah saya sudah membuktikan sendiri, dan ternyata jauh lebih segar, jauh lebih fresh. Eit, jangan lupa niatkan mandi dan shalat malam untuk memperlancar proses pengerjaan tugas akhir kita.

Lalu apakah malam hari tidak bolehkah kita beraktivitas? Tentu saja boleh. Bahkan para ulama’ terdahulu menyedikitkan tidur semasa ramadahan. Siang mereka tetap beraktivitas seperti biasa, malamnya tenggelam dalam sujud kepadaNya. Namun tentu ada batasnya. Jangan sampai semalam suntuk tugas akhir dan beribadah, lantas siang hari tidur seharian. Hal itu tentu tidak baik untuk kesehatan. Apalagi jika pagi kita tertidur pulas. Nah lho, bukankah Sunnah Nabi Muhammad adalah beraktivitas saat pagi hari ?

Kedua adalah jangan “sok sibuk dengan si cinTA”. Apalagi ini ramadhan. Iya, memang kita bekerja untuk Allah SWT. Iya memang benar kita mengerjakan Tugas Akhir untuk menuntut ilmu. Tapi ketika waktu shalat tiba, berhentilah sejenak. Niatkan shalat sebagai sarana me-refresh-kan pikiran. Apalagi bertemu dengan air wudhu, adalah sarana menyegarkan badan, muka, tangan, kaki, dan membersihkan mulut.

Ada sebuah ungkapan menarik yang berbunyi begini :

Bekerja memang sih karena Allah, tapi jika Allah memanggil tak kita hentikan sejenak pekerjaan kita, masih yakin kalau kerjamu karena Allah?

Ya, hentikan sejenak pekerjaanmu. Memang benar ada sebuah hadis yang menyatakan bahwa diperbolehkan menunda shalat jika menuntut ilmu atau alasan syar’i yang lainnya. Namun tentu dengan catatan jika hal itu benar-benar tidak memungkinkan untuk ditinggalkan.

Dari Abdullah bin Fadhaalah, dari Ayahnya, berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan saya, di antara yang pernah dia ajarkan adalah: “Jagalah shalat yang lima.” Aku berkata: “Saya memiliki waktu-waktu yang begitu sibuk, perintahkanlah kepada saya dengan suatu perbuatan yang jika saya lakukan perbuatan itu, saya tetap mendapatkan pahala yang cukup.” Beliau bersabda: “Jagalah shalat al ‘ashrain. “ (HR. Abu Daud No. 428)

Nah, sudah jelas dalam hadis di atas, makananya adalah sesibuk-sibuknya kita paling tidak jangan pernah meninggalkan shalat berjamaah Subuh dan Ashar di awal waktu. Namun tentu maksudnya adalah kalau bisa shalat yang lain pun dilaksanakan secara berjamaah dan kalau bisa di awal waktu pula. Tugas Akhir tentu bukanlah alasan yang tepat jika kita berdiam di depan laptop kemudian datang panggilanNya, lalu kita masih memutuskan untuk tetap di depan laptop. Aih, masya Allah, bagaimana jika kemudian Allah berkehendak laptop kita error atau yang lainnya ?

Saya menjadi teringat akan status Rektor saya, Prof. Ir. Joni Hermana beberapa waktu lalu yang ketika saya membacanya, langsung berlinang air mata saya dan seakan merasa “kalah” dan entah sepertinya saya bingung ketika andai nanti di akhirat dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT, adakah alasan saya untuk mengelak?

Status Facebook Prof. Joni Hermana, Rektor ITS beberapa bulan yang lalu :

Saat berjalan kembali ke kantor usai shalat magrib berjamaah di Mesjid Manarul Ilmi ITS, saya dikejar oleh 2 orang mahasiswa yang dengan tergopoh-gopoh menyapa saya:
“Assalamualaikum Bapak..”

“Waalaikumsalam W.W….ya Mas?” Saya menjawab sambil berhenti melangkah dan membalikkan badan.

“Maaf Pak, saya tidak tahu mau bertanya apa. Tapi saya selalu mengamati Bapak shalat berjamaah di mesjid padahal Bapak pasti sangatlah sibuk dengan berbagai urusan. Mengapa Bapak masih bisa menyempatkan diri shalat di mesjid? Nasihatilah kami Bapak…”, ujar salah satunya dengan sedikit salah tingkah. Sementara mahasiswa satunya hanya diam sambil tersenyum mengikuti di belakangnya.

Saya pandangi mereka beberapa saat, lalu menjawab, “Boleh ikut saya ke kantor saya sebentar? Kita ngobrol sejenak…”

Mereka lalu mengikuti saya dengan semangat menuju ruang kantor tempat saya sehari-hari bekerja.

“Satu kalimat saja Pak pesannya, itu sudah cukup buat kami..supaya kami tidak terlalu lama mengganggu waktu bapak”, kata salah satunya lagi, antara sungkan dan juga tak sabar mungkin.

“Begini, ” ujar saya singkat sambil mempersilakan mereka mencicipi hidangan tamu yang tersedia di atas meja.

“Jika kalian yakin terhadap Tuhan yang menciptakanmu, yakin juga kalau DIA lah yang menentukan nasib dan takdir kita, untung dan rugi, susah dan bahagianya kita, mengapa lalu kita mengabaikan panggilannya ketika DIA berseru untuk menghadapNYA?”

“Kita kadang begitu ngotot tentang pentingnya urusan kita sehingga merasa tidak bisa meninggalkannya barang sekejap pun..tapi kita lupa bahwa arti penting itu menjadi tidak berarti apapun ketika DIA tiba-tiba mencabut nyawa kita seketika…”

“Padahal siapapun tidak akan bisa menjamin kehidupan, meski itu untuk kehidupan dirinya sendiri sekalipun”

“Jadi sebenarnya saya hanya berusaha rasional saja bahwa sesungguhnya kita itu tidak berarti apa-apa dihadapannya”

“Lalu…mengapa harus ke mesjid? Pasti Saudara khan tahu banyak keutamaannya silakan baca sendiri referensinya. Tapi ada hal yang saya senang yaitu bahwa Allah akan menghitung pahalanya berdasarkan orang yang shalatnya paling khusu di antara jamaah. Sehingga kita yang shalatnya mungkin sedang tidak khusu akan terbantu oleh saudara kita yang lain tersebut atau bahkan siapa tahu, sebaliknya”

“Ups, sepertinya saya sudah berkalimat-kalimat yang terucapkan yang bukan hanya satu..” celetuk saya sambil tersenyum.

“Iya Pak, sudah banyak sekali yang kami dapat. Terima kasih Pak..”

#(Dialog tersebut saya rekam dan tulis ulang siapa tahu memberi inspirasi yang lain, bukan sok mengajari, bahwa kita perlu logis dalam memprioritaskan yang prioritas dalam perilaku kehidupan kita)

Halo para pejuang Tugas Akhir, sepertinya sesibuk-sibuk apapun tugas akhir kita, masih sibuk seorang rektor dengan segala aktivitasnya. Semoga ini cukup menjadi pengingat bagi kita semua akan kepada siapa seharusnya kita memprioritaskan segala aktivitas kita.

Ketiga, sekaligus terakhir sebagai pengingat bagi kita semua, bahwasanya Berabad-abad yang lalu, Rasulullah SAW bersabda melalui sebuah hadisnya:

“Banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apapun dari puasanya. Kecuali lapar dan haus saja”

Semoga tugas akhir yang kita kerjakan tidak membuat kita lalai dalam ibadah kepadaNya di Bulan Ramadhan ini, hingga membuat puasa kita tak berarti apa-apa. Jika berpuasa ramadhan adalah sarana penghapusan dosa kita, tadarrus dan ibadah sunnah lainnya dilipatgandakan segala kebaikan olehNya, serta menuntut ilmu adalah melalui tugas akhir yang kita adalah perjuangan nyata untuk tholabul Ilmi – mencari ilmu karenaNya, bagaimana jika kita mampu menyeimbangkan dan melaksanakan ketiga-tiganya? Semoga itu menjadi pembuka kelak pintu surga yang dijanjikan oleh Allah bagi kita.

Kamar kos, di sela mengerjakan Bab IV Tugas Akhir
Sembari memperjuangkan cinTA demi Cinta yang Sesungguhnya
1 Ramadhan 1437 H
02.17

Categories: Islam | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: