#ProfkilGoesToThailand (4): It’s time to Fun :)

11 Mei 2016

Pagi itu aku terbangun sekitar pukul 04.00 setelah hanya tidur sekitar dua jam pada pukul satu malam lebih pasca packing. Selepas subuh rasana masih ngantuk. Namun kupaksakan untuk tidak tidur.  Ya ada beberapa packing yang belum terselesaikan. Pagi itu kami lagi-lagi intens berkomunikasi lewat whatsapp. Memastikan segala sesuatunya telah siap.

Dan lagi-lagi perdebatan di grup terjadi. Antara aku dan diyah. Semasa menjadi sekertaris departemen dulu, dan aku sebagai kepala departemen,  mungkin kami yang paling sering bertengkar, haha… Dan pagi itu terjadi lagi hanya karena persoalan sepele antara kami berangkat naik taksi bersama atau sendiri sendiri. Masalah uber car yang sempat terpesan namun dibatalkan, hingga akhirnya lagi-lagi aku terbawa emosi. Untunglah seakan kami sekelompok sudah memahami karakter masing-masing. Bayangan khawatir tertinggal pesawat akhirnya sirna ketika kami semua sudah berada di Juanda.

Singkat cerita kami take off sekitar pukul 11.30 siang dari Juanda. Di pesawat kami ternyata juga ada beberapa delegasi AASIC dari ITS dan ada juga dari Universitas Airlangga. Perjalanan kami sekitar 4 jam lamanya pada akhirnya kami mendarat sekitar pukul 15.30 sore. Assalamu’alaikum Bangkok! Sawaddee krab Thailand! Alhamdulillah sore itu kami mendarat dengan selamat dengan penerbangan Air Asia. Usai itu kami bergegas menuju imigrasi dan selanjutnya mengambil bagasi. Sekitar pukul 16.30 kami keluar dari imigrasi, dan di sana sudah ada ternyata beberapa panitia AASIC melambai-lambai. Alhamdulillah, setidaknya kami akan mendapat penunjuk jalan di situ. Selanjutnya kami shalat jama’ takhir di Musholla di lantai 2. Mushollanya ternyata cukup besar dan nyaman. Sebuah rasa syukur ternyata negeri yang hanya 5% penduduknya yang beragama islam di sini masih menghargai para pemeluk islam. Usai itu kami pun memutuskan memesan Uber. Ya, mode transportasi bertajuk digital ini ternyata sama murahnya dengan di Indonesia. Jarak ke penginapan kami sekitar 33 km, dan biayanya sekitar 200 baht, atau sekitar 80 rb. Tapi mobilnya… adalah…. Toyota New Camry. Sesuatu yang membuat kami berempat speechless. Standar thailand dan Indonesia ternyata berbeda hehe. Bandingkan di Indonesia yang “hanya” avanza, xenia, dan lainnya.

Kami sampai sekitar pukul 20.30 malam. Kebetulan di situ, Mas Jamhari orang yang membantu menghubungkan kami ke tempat penginapan sudah menunggu. Kami pun bergegas menyeberang melalui jembatan penyeberangan dan makan malam. Kebetulan di situ ada kios makanan halal. “Di sini, kalau makanan halal cuman ada kios ini dek, itu pun adanya malam, dan biasanya cepat habis”. Malam itu kami beristirahat di kamar kami masing-masing. Saya bertiga bersama teman saya dari ITS dan UNAIR, sementara geng cewek menempati kamar lain. Esok hari acara mulai sekitar pukul 09.00

AASIC 2016 : The Day of Presentation

12 Mei 2013, hari itu kami mengikuti pembukaan AASIC 2016. Momentum seperti ini harus kami manfaatkan untuk mencari link seluas-luasnya. Selepas registrasi kami mengikuti materi dari salah satu keynote speaker, Mrs. Beliau merupakan associate professor dari Mahidol University.

Singkat cerita, sesi presentasi kami baru sore hari dan itu pun giliran terakhir. Presentasi di klaster sosial terdapat lima belas tim. Berbagai riset mulai dari mahasiswa S1 sampai S3 dipresentasikan. Saya sendiri hanya geleng-geleng apalagi jika melihat riset saya dibandingkan dengan mahasiswa-mahasiswa S-3 barangkali tidak ada apa-apanya. Mendapat sesi presentasi terakhir, saya akhirnya kepikiran memberikan sedikit pembeda dengan memberikan “punch” ala pengisi materi biasa di kampus biasanya. Alhamdulillah, dengan pembukaan yang sedikit heboh, antusiasme penonton kembali meningkat.

Sesi Presentasi Paper penelitian kami : Indonesian Customer Purchase Intention for Halal Food toward Halal Supply Chain

Pemberian Sertifikat Presenter

Alhamdulillah, usai sudah sesi presentasi. Tanggapan dari penonton pun cukup positif. Mungkin karena penelitian kami “sedikit berbeda” dikarenakan terdapat aspek Halal dan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Sesi presentasi berakhir sekitar pukul 18.00. Masih ada waktu untuk gala dinner. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Mahidol University.

Delegasi ITS di depan Patung Prince Mahidol

Partner In Crime : Quartet Kabinet Profkil HMTI 14/15

Malamnya, kami mengikuti Gala Dinner. Ini barangkali acara yang ditunggu-tunggu. Makan gratis dan pastinya lebih enak dari makanan-makanan sebelumnya, hehe. Malam itu kami berempat duduk di satu meja. Sebuah kebetulan yang spesial karena kami pada waktu itu terdapat seorang bapak-bapak berasal dari Jepang yang kebetulan pada waktu itu presentasi bersama kami di suatu ruangan. Mr. Kato Yasuki namanya. Beliau mahasiswa S-3 bidang Humanities di Mahidol University. Beliau berasal dari Jepang dan kebetulan mempresentasikan riset mengenai kondisi masyarakat di Jepang. Beliau ternyata cukup tertarik dengan riset kami dan kami banyak berdiskusi tentang perkembangan makanan halal di Jepang. Selain itu yang membuat kami kagum adalah bagaimana table manner beliau. Beliau dengan sopan selalu menawarkan untuk menuangkan minum ke gelas-gelas kami, termasuk selalu menawarkan menuangkan makanan ke piring-piring kami. Bahkan saya sempat menangkap ketika ada yang orang yang memfoto pertunjukan di depan, beliau dengan tanggapnya menundukkan kepalanya. What an amazing attitude, barangkali karena inilah Jepang bisa maju karena mereka memiliki adab yang baik.

Bersama Mr. Kato Yasuki (tengah, tampang Jepang)

It’s time to Fun (?)

Hari kedua semestinya barangkali menjadi hari yang menyenangkan bagi kami. Ya, pada hari itu kami sudah berencana jalan-jalan. Sebenarnya masih ada sesi presentasi lain dari klaster kesehatan, namun kami berencana “sedikit nakal” dengan memutuskan jalan-jalan. Namun semua itu berubah ketika panas demam menyerang. Malam itu sekitar jam 00.30, pintu kamar saya diketok. Ternyata diyah. “Iz, kamu ada parasetamol nggak? Ini Lintang badannya panas banget, masih tinggi panasnya”. Sebagai satu-satunya laki-laki di tim, saya pun langsung tidak bisa tidur. Malam itu saya mau keluar juga tidak tahu apakah apotik masih buka, dan juga khawatir obat yang ada tidak halal. Bismillah, akhirnya malam itu saya mencoba mengetuk kamar mas Jamhari. Tidak bangun-bangun juga. Akhirnya iseng saya buka kamarnya, dan tidak dikunci. Singkat cerita saya berhasil membangunkan mas-nya dan meminta obat. Masnya memberikan paracetamol yang dosis tinggi, sekitar 500gram kandungannya. Usai memberikan obat itu, kami kembali ke kamar masing-masing. Pada waktu itu ketakutan saya cuman satu. Kalau sampai penyakit itu menular ke diyah dan dita yang satu kamar, selesai sudah ._.V. Akhirnya saya mencoba memejamkan mata walaupun tidak nyenyak.

Pagi itu, ternyata kondisi Lintang belum membaik. Akhirnya pagi itu saya ke 7-Eleven. Membeli madu, dan beberapa makanan lainnya. Sembari itu saya juga membeli nasi putih di depan penginapan. Hanya itu, yang lain tingkat kehalalannya dipertanyakan. Untungya dita membawa abon dan serundeng dari rumah. Rekan sekamarku, Diyan Wahyu dan Gagang pada waktu itu aku minta berangkat terlebih dahulu, sebab acara pagi itu hanyalah presentasi dari kelompok lain dan sesi keynote speaker. Sembari menemani mereka di kamar, bisa juga sambil melakukan hal-hal produktif lain seperti menulis ini hehe.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 11.00 siang. Waktunya jumatan, dan Thailand sedang puncak-puncaknya musim panas sekitar 38 derajat. Karena kondisi Lintang belum baik juga akhirnya terpaksa aku meninggalkan mereka bertiga. Mereka berjanji akan menyusul nanti sekitar jam 2 mendekati penutupan, karena kami mendaftar untuk mengikuti campus tour. Pukul 11.15, dan ternyata kunci kamarku hilang di kamar. Waduh, disaat seperti ini kenapa tidak ada ._. . Sekitar 10 menit mencari akhirnya kunci saya ketemu. Langsung saja saya keluar kamar dan berlari menuju lokasi conference. Kebetulan di situ ada Muslim Center, yang jaraknya sekitar 1.5 kilometer atau 15 menit jalan kaki. Saya sampai sekitar pukul 12.00 dan ternyata…………………………belum dimulai. Alhamdulillah, masih sempat. Saya jumatan di teater Mahidol, karena memang Mahidol tidak menyediakan musholla atau pun masjid. Dengan kondisi seperti itu, saya benar-benar mampu merasakan bagaimana seolah eratnya persaudaraan muslim di antara kami, sesama umat islam.

Pukul 14.00, seusai sesi makan siang akhirnya Diyah, Dita, Lintang tiba di lokasi. Kami segera menuju ke lokasi penutupan di Main Auditorium Mahidol Learning Center. Di situ dilakukan penyerahan penghargaan kepada para pemenang kategori Best Paper dan Best Presentator. Untuk kali ini, kami belum mendapatkan kesempatan untuk mendapat penghargaan. Di klaster kami, Best Paper diraih oleh Mr. Kato Yasuki dengan riset S-3 nya, Best Presentator dari mahasiswa S-3 Kriminologi Universitas Indonesia juga dengan riset S-3-nya. Yah, sepertinya memang kami kalah dari mereka karena memng kami masih S-1, hehe. Usai itu, kami mengikuti campus tour. Yeah, it’s time to fun. Campus Tour di sini kami mengunjungi beberapa tempat.

Rumah Kayu, Mahidol University

Di dalam Kereta. Moda transportasi di sini menggunakan semacam mobil terbuka saya lupa namanya. Semacam bus kampus

Di depan Prince Mahidol Hall, katanya venue tersebut tempat Wisuda dan Acara Besar Universitas

Di depan Mahidol University

It’s time to Walk Around Thailand

Ya, hari itu kami akhirnya memutuskan jalan-jalan walaupun kondisi Lintang belum membaik sepenuhnya. Kami berangkat sekitar pukul 06.30 selepas sarapan seadanya. Kali ini kami mencoba transportasi lain. Pagi itu kami naik Bus A-52 menuju ke Victoria Monument. Bus yang tampang luarnya buruk, ternyata dalamnya ber-AC dan dilengkapi WiFi. Sesampai di victoria monument, kami naik Sky Train, dan menuju ke Phaya Thai. Di sana, ada teman kami, Ainun sudah menunggu untuk menjadi tour guide kami.

Phaya Thai Sky Strain Station

Destinasi pertama kami adalah…………………… Sarapan. Ya, kebetulan di daerah Phaya Thai ada perkampungan muslim. Kami pun makan di situ. Harganya standar jakarta, sekitar 40 – 60 Baht. Dari situ kami menuju ke Siam. Kata Ainun, belum ke Thailand namanya kalau tidak pernah merasakan Siam. Thailand dulunya bernama Siam, dan dulu daerah tersebut merupakan pusat kota dan pusat pemerintahan. Nama Thailand sendiri diperoleh ketika mereka merdeka, dan artinya adalah Thai (pembebeasan) land (daratan) atau lebih dikenal Daerah Pembebasan. Sekarang daerah ini ternyata menjadi aneka pusat perbelanjaan kelas menenegah ke atas. Di bawah Siam Paragon Plaza sebenarnya ada Seaworld yang cukup besar. Namun tiketnya sekitar 800 baht dan mana mungkin kami ada uang sebanyak itu ._.

Bersama Geng Rumah Kepemimpinan Surabaya di Siam Center

Dari Siam Center kami menuju ke Chulalongkorn University. Siam merupakan daerah yang kepemilikan tanahnya dimiliki oleh Chulalongkorn. Sehingga bayangkan tentu saja keuntungan dari penjualan barang-barang di pertokoan Siam akan masuk ke Chulalongkorn University. Pantaslah universitas dengan peringkat 117 dunia ini memiliki berbagai fasilitas yang mumpuni. Kami menuju Chulalongkorn menggunakan Bus Universitas. Bus-nya sudah menggunakan teknologi Bus Listrik, dan kenyamanannya juga baik. Kami kemudian menuju ke bagian depat Chulalongkorn untuk mengambil foto sejenak.

Di depan patung King Chulalongkorn, cuman bertiga. Lintangnya sakit nggak mau diajak foto karena udara panas

Di depan King Mahidol House

Pasca dari Chulalongkorn University kami menuju ke Bangkok Art and Culture Center. Semacam supermarket tapi di lantai atasnya berisi kesenian dari berbagai seniman-seniman di Thailand. Cukup menarik di lantai bangunan dengan lantai 7 sampai 10 berisi aneka macam kesenian.

Ini foto yang Totally Failed. Niat saya untuk berfoto candid ,tapi di kesemuanya ada “makhluk lain” -___-. Yang memfoto pun sepertinya sengaja tidak memberi tahu, dan saya juga tidak menge-ceknya. Foto di tengah setelah selesai sesi foto.

Beberapa aksi “kenarsisan kami” di Bangkok Arts Culture

Selepas dari tempat yang dingin-dingin, kami melaksanakan Shalat terlebih dahulu di daerah Siam Plaza. Kebetulan terdapat musholla di sana. Usai dari situ kami menuju ke Candi Budha. Ada pula yang bilang belum ke Thailand rasanya jika kami tidak menuju ke Candi – Candi Budha. Lokasi terdekat adalah Victoria Monument. Kami menaiki bus ke sana, dan kemudian sesampainya di sana tiket masuknya 20 baht atau sekitar 8000. Kami pun masuk ke dalam dan melihat beberapa aktivitas peribadatan umat budha.

Golden Mountain, Thailand

Di atas Golden Mountain

Golden Mountain, di Puncak Candi setelah menaiki anak tangga yang cukup tinggi

Selepas kami berjalan, karena budget semakin tipis akhirnya kami mencukupkan kunjungan ke candi tersebut. Ah paling juga candi isinya hanya begitu-begitu saja pikir kami. Kami segera menuju ke pelabuhan Sungai Chaop Raya. Cukup jauh juga kami berjalan dan di situ kami melewati beberapa Candi yang lain.

Di depan Rumah Raja Thailand. Ga sembarang orang bisa masuk ke dalam

Usai itu kami menuju ke destinasi wisata terakhir kami hari itu. Yaitu Asiatique. Daerah pelabuhan yang malam hari katanya menyajikan pemandangan yang romantis. Sangat tidak cocok sekali untuk kami berempat karena kami semua jomblo-jomblo (sampai halal insya Allah wkwkwk). Tapi ya kami tetap ke sana saja. Kami berangkat menaiki Kapal Wisata yang menelusuri sungai Chaop Raya. Dan pemandangan sore hari menjelang terbenam memang benar-benar indah, menyajikan romantisme tersendiri bagi saya.

Dalam pelayaran menuju Asiatique. di Sungai Chaop Raya

Asiatique, banyak sekali makanan di sana. Termasuk makanan halal. Kebetulannya di depannya ada masjid dan pujasera berisikan makanan halal di samping masijd tersebut. Akhirnya lapar seharian terbayarkan dengan tuntas

Ya, seharian sudah kami internalisasi. Internalisasi yang bukan sekedar internalisasi #asek. Karena kelelahan yang luar biasa, kami akhirnya memesan Uber untuk kembali. Malam itu adalah malam terakhir kami di apartement. Sementara itu mungkin teman-teman sudah tertidur, aku membuka laptopku. Meng-copy foto-foto kami sembari sejenak bernostalgia akan perjuangan kami. Esok hari adalah hari terakhir, di mana kami akan pergi ke Chatuchak Market untuk membeli oleh-oleh dan beberapa benda khas Thailand untuk kami sendiri tentunya.

Hari terakhir kami berkemas sekaligus berpamitan dengan Mas Jamhari serta mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka selama di penginapan. Tak lupa kami memberi oleh-oleh Krupuk Samijali dan Sambal Bu Rudy sebagai oleh-oleh khas Surabaya. Di tengah panasnya Thailand kami pun berbelanja. Sambil membawa koper dan tas berat kami berkeliling pasar tradisional tersebut. Untungya di situ ada tempat sarapan halal.

Warung Saman. Harga makanan di sini sekitar 150 baht sampai 200 baht. Cukup mahal memang, namun rasanya dan porsinya tidak mengecewakan.

Usai dari chatucak market, bergegas kami menuju Bandara Don Muang. Kami cukup was-was mengingat jam penerbangan yang sudah mepet. Dan sesampainya di sana….. Alhamdulillah penerbangan ternyata delay ._. Setelah mengantri bahkan kami sempat bongkar pasang bagasi kami setelah kami coba timbang ternyata hampir semua bagasi kami kelebihan. Akhirnya menggunakan trik mengeluarkan barang dan membawanya ke tas punggung kami. Untunglah bagasi kami pada akhirnya tak kelebihan.

Pada akhirnya sampailah kami di Ruang tunggu pesawat. 5 hari sudah kami di berkelana di negeri orang dan pada akhirnya kami kembali. Rasa lelah, capai, senang, bercampur menjadi satu. Dan lagi-lagi pesawat kami mengalami penundaan untuk kedua kalinya. Hufft. 16.45. Pada akhirnya pesawat kami take off. Perjalanan sekitar 4 jam dan sampailah kami di Surabaya sekitar pukul 9 malam. Lintang dan Dita sudah kembali dijemput keluarga masing-masing. Sementara aku dan diyah naik uber untuk kembali ke tempat kami masing-masing. And finally our journey was end. But my story, actually just begin….

—-masih bersambung —

Asrama RK Surabaya

Sembari rapat persiapan momen terakhir

Menuju 31 Mei 2016

23.40

Categories: Campus, Thailand | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: