#ProfkilGoesToThailand (3) : Lika-Liku Menuju Keberangkatan (3) – Problem Klasik Bernama Dana

10 Maret 2016

Berbekal tabungan sendiri, bismillahirrahmanirrahiim, akhirnya aku menalangi terlebih dahulu untuk biaya registrasi presenter. Panitia tahun ini sepertiya berbeda dengan panitia AASIC tahun kemarin. Sebab berdasarkan penuturan kawanku, tahun lalu panitia memberikan kelonggaran yang lebih kepada peserta terkait tenggat waktu pembayaran registrasi. Namun setelah bernegosiasi dengan panitia melalui email, ternyata panitia tidak dapat memberikan tenggat waktu kembali.

Oke, rintangan pertama terlewati. Selanjutnya rintangan selanjutnya adalah biaya registrasi ketiga anggota kelompok yang deadlinenya tanggal 1 April 2016. Sementara itu proposal kami masih ditahan oleh jurusan. Beberapa kali di follow up namun proposal tetap saja tertahan dikarenakan entah dosen TKK yang masih keluar kota, dan lainnya. Hingga akhirnya proposal kami tertahan selama hampir  3 minggu dan akhirnya selesai. Kami bergegeas memasukkan proposal ke fakultas dan dekanat. Agar bisa bergerak, kami akhirnya memutuskan mencoba mengirim proposal keluar ITS hanya berbekal tanda tangan Kajur. Sudah akhir maret dan H-1 bulanan. Sementara itu copy proposal yang lain kami bawa ke fakultas, dekanat, rektorat, dan IKOMA.

1 April 2016. Hari deadline pembayaran pun tiba, sementara kami masih belum mendapat uang sepeser pun. Malam itu, kami berempat berkumpul di Lab Sistem Manufaktur. Sembari membicarakan apakah rekan-rekan bertiga jadi berangkat ataukah tidak. Dan hasil diskusi malam itu, untungnya Lintang mau menalangi uang registrasi Dita dan Diyah terlebih dahulu. Bismillah, malam itu juga kami akhirnya melakukan pembayaran. Rintangan kedua pun tak terasa terlewati.

Segala keputusan pasti mengandung resiko. Sekarang, dengan kondisi kami belum mendapat sponsor dan telah melakukan pembayaran, otomatis kami mau tidak mau harus berangkat agar tidak merugi tentunya. Ya, akhirnya kami mengirim beberapa proposal ke perusahaan-perusahaan.

6 April 2016, salah satu perusahaan menghubungi kami. Perusahaan tersebut meng-acc Proposal kami sebesar satu juta rupiah. Alhamdulillah. Sesedikit apapun harus disyukuri. 14 April, akhirnya satu juta yang dinanti telah di tangan. Sembari tiap hari membagi fokus di tengah persiapan seminar Tugas Akhir, kami juga mem-follow up berbagai sponsor yang ada.

28 April 2016. Sekitar H-2 minggu keberangkatan. Sudah beberapa perusahaan menjawab dengan penolakan. Entah mengapa kami semakin pesimis. Apalagi uang kami sudah terpakai untuk membayar conference. Yah, minimal tiket keberangkatan dan kepulangan yang selalu menjadi momok ketika mengikuti acara di luar negeri.

29 April 2016, di tengah grup chat yang tegang seperti ini.

Ya, akhirnya kami mendapat kepastian mendapatkan uang dari sponsor. Dengan kondisi seperti itu, pada waktu itu kami bisa mendapatkan tiket pulang pergi. Alhamdulillah. Rasa syukur tak terhingga. H-12 keberangkatan, dan pada akhirnya yang dinanti datang juga. Namun lagi-lagi badai permasalahan tidak sampai di situ saja. Harga tiket yang dulu semula dengan uang seperti itu cukup untuk pulang pergi, ternyata sudah melonjak sekitar 30%-an. Akhirnya uang yang didapat tak cukup untuk melakukan pembelian tiket.

Nah, masalah lain ketika kami akan melakukan pembelian tiket online, ternyata diminta memasukkan nomor paspor. Sementara Diyah, salah satu anggota tim kami belum memiliki paspor. 30 April 2016, dan ada yang belum punya paspor dan belum punya tiket pesawat. Bahkan pengurusan paspor pun kami sempat pesimis bisa selesai lebih cepat karena adanya long weekend dari tanggal 5 – 8 Mei 2016. Hingga rasa pesimis pun keluar….

Di tengah tekanan yang tak kunjung mereda, kami tetap berusaha berbaik sangka kepada Allah. Bismillah, jika memang ini jalannya, Insya Allah mimpi untuk keluar negeri bersama bukan hanya sekedar impian.

2 Mei 2016, H-9 keberangkatan. Pada akhirnya kami mendapatkan tambahan dana dari kampus. Sehingga jika ditotal cukup untuk membeli tiket keberangkatan dan kepulangan. Problemnya adalah dana tersebut tentu belum cair dan sudah menjadi rahasia umum pencairan dana kampus selalu setelah acara itu selesai. Akhirnya pada hari itu kami mencoba mencari pinjaman uang. Sementara hari itu juga dari uang yang sudah didapat dari sponsor, kami membeli tiket untuk keberangkatan.

Di tengah kebingungan mencari dana, kami pun belum mengerjakan PPT untuk presentasi paper. Sementara jobdesc itu dibagi ke aku, dan dari tanggal 3 Mei 2016 Hingga tanggal 8 Mei 2016 aku harus ke Jakarta untuk mengikuti National Leadership Camp 2016 Rumah Kepemimpinan. Akhirnya? PPT dibuat sembari perjalanan Surabaya – Jakarta di kereta. Tentu dengan koneksi internet yang tak stabil. Sementara Lintang dan Dita menemani Diyah sembari mencoba me-lobby ke Imigrasi agar paspor bisa selesai lebih cepat.

4 Mei 2016, pada akhirnya aku mendapat pinjaman. Kami bisa segera membeli tiket untuk kepulangan. Sementara dita juga mendapat pinjaman, Lintang juga mendapat pinjaman, sementara Diyah belum mendapat pinjaman akhirnya aku talangi dulu. Akhirnya malam itu kami membeli tiket pulang. Selesai. Allahu Akbar! Pada akhirnya insya Allah kami berangkat ke Thailand. H-7 keberangkatan. Di tengah dana yang masih banyak cair, ternyata kami mampu melakukannya.

5 Mei 2016, kembali sponsor menghubungi kami. Alhamdulillah, kembali mendapat tambahan walaupun tak banyak. Cukup setidaknya untuk penginapan, dan sedikit uang saku selama di sana. Hari itu juga aku pasca NLC 2016 di kamar, mencoba menyeleseikan deadline presentasi di tengah acara NLC yang begitu padat. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 23.30 malam. Aku baru masuk kamar, sebab acara baru selesai, dan beberapa orang sudah tertidur pulas. Acara NLC kali ini benar-benar menguras tenaga. Hampir setiap hari acara selesai pada pukul 11 hingga tengah malam. Sementara pukul setengah empat pagi, kami harus sudah bangun untuk melaksanakan Qiyamu Lail. Sementara aku masih ada tanggungan power point. Bismillah karena inilah perjuangan, aku mencuci mukaku lalu menyeleseikan power point. 01.30, akhirnya ppt selesai terkirim. Masih ada waktu 2 jam untuk memejamkan mata. Dan aku pun tertidur pulas.

Pasca itu, pembicaraan kami di grup berubah ke arah penginapan. Masalah lain, kami belum mem-fikskan tempat penginapan kami, sembari mencari yang murah atau bahkan gratisan. Singkat cerita kami mendapatkan penginapan yang benar-benar murah, hasil dari kekepoanku di linked in mencari mahasiswa Indonesia di Mahidol University. Sekarang kami menjadi lebih santai. Mulai membicarakan nanti jalan-jalan ke mana, tukar uang, dan persiapan teknis lainnya. Yah perjuangan itu pada akhirnya menghantarkan kami ke negeri gajah.

10 Mei 2016. Malam itu aku nyaris tak bisa memejamkan mata. Sembari melakukan packing barang-barang bawaan, aku merenungi. Perjuangan panjang sejak November 2015 yang lalu, barangkali ini buah perjuangan kami. Selalu ada pengorbanan yang dilakukan, sempat ada pertengkaran-pertengkaran kecil, semangat yang naik turun, tapi begitulah perjuangan. Tidak akan indah jika hanya berjalan mulus. Sebab dinamika-lah yang membuatnya indah untuk dikenang.

(masih bersambung)

Di sela-sela Seleksi Rumah Kepemimpinan Angkatan 8

Gedung AMEC, UNAIR

17.22

Categories: Campus, Thailand | Tags: ,

Post navigation

Comments are closed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: