22 Bulan di Rumah Kepemimpinan: “Maaf, Tapi Aku Hanya Mendapat Kenangan”

tumblr_inline_p00aynYyrS1qe5sxz_540.jpg

Aku memandang ke arah jendela. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 17.30 Waktu Bangkok. Sebentar lagi burung besi ini membawaku take off. Don Muaeng Airport semakin kecil terlihat manakala pesawat lepas landas. Dari jendela aku melihat Wat-Wat (candi-candi) di Bangkok semakin terlihat kecil. Pesawat berlepas landas meninggalkan kota tempat di mana barangkali aku mengukir sejarahku yang pertama bersama rekan-rekan seperjuanganku.

Di dadaku, tersemat sebuah jaket. Jaket hitam. Jaket yang aku masih ingat bagaimana memperjuangkannya sejak zaman mahasiswa baru dahulu. Tertulis di sisi kirinya, “PPSDMS Nurul Fikri, Creates Future Leaders”. Di sebelah kanannya ada bendera Indonesia yang menandakan nilai-nilai nasionalisme tetap dijunjung tinggi di Institusi ini. Jaket ini yang selalu menemaniku dalam setiap safar keluar negeri. Malaysia, Singapura, Hong Kong, Saudi Arabia, dan beberapa hari kemarin, Thailand. Ada semangat yang membara laksana idealisme yang diperjuangkan di sana. Satu ayat yang sering dilantunkan Bang Bachtiar dulu di awal pembinaan adalah “Fanthasiru Fil Ardh, bertebaranlah di muka bumi, sebagaimana terlantun dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 10. Hari ini adalah hari di mana aku barangkali telah menunaikan salah satu misi tersebut. Tuntas ?! Tentu saja tidak. Masih banyak belahan dunia yang belum terjelajahi. Eropa, Afrika, Asia, Australia, dan Afrika, masih banyak yang belum terjamah. Murobbiku berkata, bahwa istirahatnya di surga saja. Jangan berhenti untuk menjelajah dunia untuk mencari rezeki serta ilmu dariNya.

H+7 National Ledership Camp 2016 sekaligus merupakan pengukuhan kami sebagai Alumni Rumah Kepemimpinan. Rasanya 22 bulan berjalan begitu cepat.  Di atas pesawat ini, entah mengapa ingatanku terbang. Kembali dahulu ke awal masa-masa pembinaan

Pukul 03.00

“Bruk….Bruk…Bruk..Bruk…,”terdengar suara gaduh botol.

“Brak..brak…brak…brak…,”kali ini berganti gedoran pintu.

“Bangun…Bangun…Bangun…!!!. Yo Qiyamu Lail!!!”kali ini suara orang.

Momentum ini hamper terulang setiap pagi di asrama. Ya, masih terekam ingat dalam ingatan, ketika Sambion Hakim bertransformasi menjadi Supervisor Hakim. Karakternya yang keras, dan kuat membuat siapapun yang mau tidur lagi seperti dikejar-kejar hantu. Setiap kamar disisir, setiap sisi di sisir. Selalu saja entah mengapa menemukan kami yang masih tertidur.

22 bulan waktu pembinaan barangkali entah aku merasa banyak hal yang kudapatkan. Namun entah mengapa begitulah penyesalan. Selalu datang di akhir. Banyak hal-hal yang seharusnya mampu dimaksimalkan namun nyatanya belum maksimal. Entah itu pencapaian pribadi, ibadah, pun demikian dengan kebersamaan.

Aku masih ingat dahulu di awal pembinaan di asrama. Entah dahulu aku begitu bersemangat. 3 Bulan awal internalisasi menjadi masa-masa yang menyenangkan sekaligus menyedihkan bagiku. Ya, pada waktu itu kegiatan asrama begitu padat. Bahkan amanah kampus dan akademik pun sempat terbengkalai. Masih teringat ketika dalam sebuah perkuliahan aku mengantuk dan tertidur di kelas, lalu dosen itu menyentak, “Mas…Mas…Kamu lagi…kamu lagi…. Tidur melulu waktu kuliah saya!”ujarnya. Pun demikian dengan amanah di Himpunan. Aneka cap terlalu sibuk diluar, asrama membuat sibuk, ppsdms eksklusif, dan lain sebagainya pun menghampiri. Mengeluh, tentu iya. Selepas subuh yang biasanya nyaman untuk tidur, kini aku pun dibiasakan untuk melaksanakan Waktu Berkah Subuh. Dampaknya saat kuliah pun aku mengantuk. Membuat dosen – dosen sampai hafal denganku. Sampai di situ? Ternyata tidak cukup. Dan di akhir semester pertama pembinaan sekaligus akhir semester 5, Indeks Prestasiku untuk pertama kalinya menyentuh angka Dua koma. Tidak hanya aku. Pun demikian dengan rekan-rekan di asrama. Sampai-sampai kami bikin geng PMDK (Perkumpulan Mahasiswa Dua Koma). Lelah? Tentu saja lelah. Rasanya berat ketika harus menyeimbangkan semua. Namun entah mengapa aku berkeyakinan, “Jika memang ini perjuangan dan jalan terjal yang harus dilakui untuk pemimpin, bahkan aku harus siap melaluinya. Apalah arti perjuanganku masa kini dibandingkan perjuangan Rasulullah dan para Sahabat terdahulu dalam memperjuangkan izzul islam wal muslimin”

Bulan demi bulan pun berlalu. Tak terasa setiap orang di asrama mulai menemukan jalan dan passion-nya masing-masing. Ada yang passion di pergerakan, mereka menunjukkan kiprahnya di organisasi. Ada pula yang passion di lomba-lomba, hingga ia hampir setiap minggu selalu menggondol piala kemenangan di asrama. Ada yang passion di bidang wirausaha, hingga di akhir pembinaan sekarang bahkan salah satu rekanku sudah memiliki mobil sendiri. Sementara aku yang passion di kepenulisan dan kawan-kawanku di asrama mencoba mewarnai berbagai media dan alhamdulillah kami telah menghasilkan dua buah buku.

Pasca semester pertama pembinaan, agaknya sudah mulai terbiasa dengan pola hidup yang ada. Tidur terkadang tetap pagi, namun sebelum subuh harus terjaga untuk qiyamu lail walau hanya 2 rakaat 4 rakaat. Titik poinnya adalah keistiqomahan. Untuk mengatasi rasa kantuk, biasanya aku pun mulai membiasakan diri untuk mandi sebelum subuh. Ya, dalam sebuah majelis ta’lim yang pernah aku ikuti dahulu bahwasanya mandi sebelum subuh selain disunnahkan oleh Rasulullah, juga baik untuk kesehatan. Yang terpenting juga untuk menghilangkan rasa kantuk.

Dan tanpa terasa Januari 2016 telah memasuki tahap akhir dari pembinaan. Di sinilah sistem pembinaan yang kami rasakan mulai “sedikit berbeda”. Ketika dahulu kami ditekankan akan pencapaian pribadi, berkelompok kecil-kecil, kini kami digaung-gaungkan nilai “CollaborAction”. Kebersamaan untuk mencapai visi besar #IndonesiaBermartabat. Ah barangkali ini terinspirasi dari QS. Ash-Shaff ayat 4 : “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Kami mulai di klaster berdasarkan passion masing-masing. Ada klaster Akademisi dan Riset untuk mereka yang ingin menjadi peneliti dan dosen, klaster PNS untuk mereka yang ingin aktif di pemerintahan, klaster Profesional untuk mereka yang ingin berperan aktif di bidang industri dan professional, ada klaster wirausaha untuk mereka yang ingin menjadi wirausahawan, serta klaster NGO untuk yang ingin aktif dalam pemberdayaan masyarakat. Di sinilah saya merasa ternyata saya tidak sendirian. Ternyata mewujudkan #IndonesiaBermartabat tidak semudah membalikkan tangan dan tentu tidak bisa sendirian. “Superman is Dead” begitulah Bang Ahadiyat menekankan saat NLC. But Super Team will sustain and still alive, so why all of you don’t become super team?

22 Bulan! Nyaris 2 Tahun. Kata-kata yang digaungkan Bang Bachtiar masih sering terngiang dalam anganku. Masih teringat dalam angan mengenai Kajian Islam Kontemporer atau KIK yang disampaikan Ust. Musholli. Beliau yang sudah tua namun tak lelah untuk berkeliling dari Medan ke Makassar untuk menyampaikan materi kajian. Dan sebenarnya dari awal KIK smpai sekarang materinya selalu itu-itu saja. Tentang perpecahan umat muslim, tentang islam di turki, tentang konspirasi dunia mengenai islam. Jujur terkadang bosan setiap KIK, kadang itu lagi itu lagi. Namun semakin lama semakin bosan entah mengapa semakin mendapat nilai-nilainya. Mungkin beliau mengikuti filosofi salah satu Kyai di pondok ayah saya dulu. Kata ayah saya, ilmu itu sebaiknya diulang-ulang sampai kitabnya “ngelonthok” atau istilahnya sampai benar-benar paham. Pun demikian Ustadz Musholli. Nilai-nilai ROOM (RendahHati, Objektif, Open Mind, dan Moderat) selalu digaung-gaungkan dalam setiap KIK-nya.

Dari KIK lalu berpindahlah ke Leaders and Leadership. Untungnya angkatanku sempat merasakan dua LnL dari sosok yang berbeda. Satunya Bang Bachtiar yang selalu meledak-ledak dalam setiap sesinya. Selalu akrab dengan gebrakan meja. Semangat orasinya tak pernah pupus. Energinya nyaris tak ada habisnya.  Dan konsepsi kepemimpinan yang ditekankan adalah “yang penting coba dulu, masa ente coba aja ga berani mau jadi pemimpin”.  Sementara Dr. Arief Munandar yang terkenal dengan profesionalitas dan perfeksionismenya bahwa pemimpin harus sudah selesai dengan urusan pribadinya. Yang selalu disiplin dan selalu nyaris sempurna dalam setiap sesinya.

Serta masih banyak lagi barangkali nilai-nilai yang kudapatkan di Rumah Kepemimpinan ini. Satu yang paling tak mungkin bisa dilupakan adalah nilai kebersamaan dan kekeluargaan. Yang saya suka dari teman-teman adalah kami ketika diluar asrama bisa saja berbeda argumen, saling menjatuhkan bahkan apalagi dengan jabatan dan amanah di kampus yang dipegang. Namun semua seolah hilang dan luntur ketika ada di asrama. Semua menjadi diri sendiri. Ada yang susah bangun, yang kalau tidur sering “menggambar di bantal”, yang suka ngutang, suka kentut sembarangan, yang seperti debt collector, yang suka nggosip, yang bahkan pendiam dan suka di kamar, kami semua berkumpul menjadi satu di Rumah Kepemimpinan. Begitulah barangkali seorang pemimpin. Ia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan barangkali hal inilah yang akan dirindukan.

22 bulan sudah di Rumah Kepemimpinan ini. Namun sayangnya aku hanya mendapat kenangan. Ya, hanya “kenangan”. Kenangan tentang materi-materi kepemimpinan yang diberikan. Kenangan bagaimana membangun paradigma islam moderat di organisasi dan sarana kontribusi masing-masing. Kenangan bagaimana canda tawa di bangun di tengah tegangnya penugasan angkatan. Kenangan bagaimana kala menangis bersama menjadi puncak dari segala permasalahan di asrama. Kenangan bagaimana ketika rebutan makanan menjadi hal yang mengasyikkan. Kenangan bagaimana ketika sandal SPV dan manajer pun menjadi korban peng-ghosob-an. Kenangan ketika adu pendapat dan debat sempat mewarnai dinamika kehidupan.

Kenangan-kenangan itu hanyalah akan menjadi kenangan belaka ketika kamu tak membungkusnya. Ya, bungkusan itu bernama idealisme yang telah ditanamkan selama 22 bulan pembinaan. Niscaya kenangan itu akan menjadi spirit untuk mewujudkan lifeplan yang telah dibuat. Niscaya kenangan itu akan menjadi pengingat kala nanti kamu futur dalam memperjuangkan idealismemu. Sebab kita pemuda yang telah berikrar mewaqafkan diri untuk Indonesia.

Suatu hari nanti kita tidak lagi sendiri dalam memperjuangkan Indonesia. Ada aku di sektor ini, ada kamu di sektor itu, ada mereka di sektor yang lainnya. Karena aku dan kamu bukan lagi apa-apa ketika telah menjadi kita. Dan semua itu berawal dari kenangan pembinaan. Karena kenangan tak selamanya untuk dilupakan, namun jadikan ia sebagai pengingat dan landasan perjuangan. Terima Kasih untuk kenangannya, Rumah Kepemimpinan.

Saudaramu, Sampai Surga (Insya Allah)

Di pesawat Air Asia QZ 303

Don Muaeng, Thailand – Juanda, Surabaya

*baru menulis 2 halaman lalu ketiduran, dan ditertawakan oleh yang duduk di sebelah, karena laptop menyala sementara mata terpejam, akhirnya lanjut pasca Landing*

16 Mei 2016

17.28

Categories: Rumah Kepemimpinan | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: