22 : Berjalan di atas Harapan

Senin Kliwon, 31 Januari 1994

22 tahun yang lalu, di sebuah ruang kecil nan sederhana lahirlah seorang anak dari pasangan suami istri yang sederhana. Di sebuah desa di Trowulan sana. Seorang anak lelaki terlahir dengan ketidaksempurnaan. Iya, bayi kecil itu terlahir dengan kedua kakinya yang tak seperti bayi yang terlahir biasanya. Pada waktu itu dokter menyebutnya kaki pengkor.

Pada waktu itu kedua orang tua itu menangis, namun akhirnya memilih tegar. Berbagai jenis alternatif pengobatan dicari ke berbagai tempat. Mulai dari tradisional, dokter, jamu, dan lain sebagainya. Konon, ibu dari bayi itu ketika mengandungnya dahulu pernah terjatuh di kamar mandi. Hingga akhirnya karena tak kuat dengan mahalnya biaya operasi kedua pasangan muda tersebut memutuskan untuk meng-gips anaknya.

Selama dua tahun pekerjaan ibundanya menjadi dua kali lipat. Selain menyusuinya, juga mengganti gips bayi itu secara teratur setiap bulannya. Dalam setiap langkah mereka berdua selalu dibacakan shalawat kepada Rasulullah SAW, sembari bertabur doa agar anaknya kelak dapat berbakti dan menjadi anak yang shaleh.

Sementara papanya terus bekerja keras siang dan malam. Gaji PNS dan dosen muda yang masih kecil pada saat itu membuat kedua orang tua bayi itu sering hanya makan nasi, kelapa, dan garam. Tak apalah kata mereka, yang penting anak kecilnya itu tercukupi gizinya dengan susu bayi yang paling mahal pada saat itu. Kedua kakek neneknya pun tak jarang menjenguknya di Malang, memberikan doa dan semangat hidup untuk bayi itu.

Hingga akhirnya, di usianya yang mendekati 4 tahun, gips itu telah benar-benar dilepas, dan kaki pengkor itu telah hilang, kembali dengan normal. Menangislah kedua orang tua bayi itu melihat kedua kaki anaknya telah menjadi normal seperti biasa. Penah suatu ketika papa dari anak itu turun dari bus di terminal, lalu tiba-tiba melihat seorang pengemis merangkak karena kakinya pengkor. Lelaki itu berkaca-kaca melihat pengemis itu, sembari memberikan sedikit sedekah. Yang ada di pikirannya adalah anaknya. Namun hari itu dengan ikhtiar yang luar biasa sembari munajat yang tiada henti dipanjatkan kepadaNya kaki itu sembuh hingga sekarang bayi yang telah menjadi dewasa itu mampu berjalan normal seperti layaknya manusia biasa.  Bayi itu bernama Mushonnifun Faiz Sugihartanto. Sebuah harapan besar disematkan kedua orang tuanya melalui namanya. Mushonnifun diambil dari bahasa arab yang berarti penulis, Faiz diambil dari bahasa arab yang berarti pemenang, Sugihartanto diambil dari bahasa jawa yang berarti sugih atau kaya.

22  Tahun : Berjalan di Atas Harapan

Suatu ketika anak itu bertanya kepada ayah dan ibunya. Pa, Ma, apa keinginan papa dan mama yang mungkin belum tercapai? Ibunya hanya tersenyum sambil melirik ayahnya. Ayah seakan paham dengan maksud ibu. “Kayaknya mamamu iya-iya saja sama jawaban papa nanti kalau ditanya keinginan,”ujar papa. Mama cuman manggut-manggut. “Anakku, salah satu impian yang belum terwujud tentu aku ingin kamu bisa kuliah keluar negeri. Tentu dulu aku tidak bisa melewati itu. Karena bahasa inggris papa sangat jelek, bahkan tidak mengerti apa-apa. Bayangkan saja, rasanya masih tidak masuk akal papa ini bisa jadi dosen, dengan latar belakang pendidikan pondok dan PGA (Pendidikan Guru Agama) Mojokerto. Diterima jadi mahasiswa UM dulu saja sudah nggak masuk akal. Wonkpapa anaknya buruh tani, rumah gedeg, sepeda ontel aja nggak punya, makan sehari-hari pakai nasi aking (nasi busuk yang dikeringkan terus di masak lagi) dengan sambal. Maka dari itulah papa dulu nggak sempat belajar bahasa inggris karena memang benar-benar nggak mengerti. Waktu papa habis untuk belajar mata kuliah reguler yang nggak pernah tak dapatkan ilmunya, ditambah kerja serabutan karena kakek sama nenekmu nggak mungkin membiayai,”ujar papa panjang lebar.

Sementara itu aku hanya untuk tertunduk. Selama ini belum pernah mencoba lebih serius belajar bahasa inggris. Nilai TOEFL juga masih pas-pasan, apalagi IELTS yang kesukarannya jauh lebih tinggi tentunya. Ya Allah, ke mana sajakah aku selama 22 tahun ini ?

Aku kemudian bertanya singkat. “Ada lagi?”tanyaku. Papa tersenyum, “Ada satu impian lain dari papa yang juga belum terwujudkan. Saking melaratnya papa dulu, hidup papa waktu menikah dengan mamamu adalah fokus bekerja. Membiayai kamu sama adikmu. Akhirnya papa nggak punya semacam yayasan, lembaga pendidikan, atau kontribusi di luar lainnya. Sementara teman-teman papa ada yang punya SOB (School of Business) Malang, ada yang punya pondok, dan lain sebagainya. Nanti, makannya kamu jadi dosen saja, terus mendirikan yayasan, entah itu pondok, atau pendidikan, atau apapun sebagai bentuk pengabdian ke masyarakat. Boleh di Malang, atau di Mojokerto di atas tanah almarhum kakekmu. Kalau di atas tanah almarhum kakekmu, semoga itu nanti menjadi amal jariyah beliau,” kata Papa.

Aku manggut-manggut. Ya, tentu saja aku ingin berkontribusi ke masyarakat kelak, dan agar doa-doa mereka yang dibawah binaanku kelak tertuju kepada papa dan mamaku. Tentu saja salah satu kuncinya nantinya adalah dengan menggenapkan dengan seorang yang memiliki visi yang sama. “Lalu bagaimana dengan mama?”tanyaku.

“Kalau mama ya seperti yang mama katakan dari dulu. Kamu jadi dosen aja, enak kayak papa. Bisa berkumpul dengan keluarga sesuka waktu. Daripada kerja di perusahaan mama nggak sreg kalau kamu di sana. Iya memang gaji besar, tapi gimana nanti waktu sama keluargamu? Lagipula jadi dosen sekarang masalah kesejahteraan sudah enak. Memang sih nggak bisa se-melejit kerja di perusahaan yang gajinya langsung besar. Tapi apa arti gaji yang besar kalau sama keluarga jarang berkumpul?”tanya mama secara retoris kepadaku.

Aku menunduk. Dulu memang sempat tersibak keinginan di dalam hati bekerja di perusahaan. Mengutip perkataan ayah saya bahwa singkong kudu manak keju (singkong dikatakan sukses kalau bisa menghasilkan keju). Maka tentu saja saya ingin bekerja di perusahaan dengan harapan melebihi pencapaian ayah saya. Namun ya, ada benarnya juga perkataan ibu. Aku mendadak ingat perkataan seniorku, bahwa kebahagiaan bersama keluarga takkan ternilai. Pekerjaan jika hilang masih dapat dicari. Namun keluarga jika hilang, tak tahu harus dicari ke mana lagi. Ah, semoga saja kelak bisa mewujudkan keinginan dari kedua orang tuaku yang begitu kucintai ini.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Semoga 22 tahun ini aku mampu berjalan di atas harapan mereka. Bahkan jika memungkinkan berlari atau mungkin terbang, mengapa tidak?

Aula Asrama Rumah Kepemimpinan

Terbangun usai memutuskan tidur di awal

23.25

Categories: Journey | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: