Anak NU, Sekolah di Sistem Muhammadiyah, Kuliah “kecemplung” Tarbiyah [4-Habis]

NU, Muhammadiyah, dan Tarbiyah. Pada akhirnya ketiganya telah saya jalani. Ya, setiap organisasi atau pun sistem tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Di posting pertama di sini saya menceritakan tentang masa-masa kecil saya yang banyak terjun di lingkungan NU. Kemudian berlanjut di postingan kedua saya pada link ini, lebih berkisah mengenai masa-masa sekolah saya yang berkecimpung di Muhammadiyah. Lalu pada postingan ketiga saya kemarin, saya menceritakan masa perkuliahan saya yang justru malah tercebur di sistem tarbiyah. Di postingan sebelumnya di sini, saya menutup tulisan saya dengan sebuah pertanyaan. Bagaimanakah saya bersikap? Hasil didikan kedua orang tua saya sejak kecil tentang pola pikir objektif yang mereka berdua tanamkan kepada saya, bahwa hakikatnya semua sistem atau organisasi pasti ada kekurangannya, dan kuncinya adalah kita mampu mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk.

“Sistem-e wong NU iku paling akeh dungone, paling dowo dungone, nek akeh dungone yo barokahe akeh,”

Nahdatul Ulama’, pada akhirnya sekarang saya mengadopsi sistem peribadatannya. Mengapa demikian? Kalau kata ayah saya, “Sistem-e wong NU iku paling akeh dungone, paling dowo dungone, nek akeh dungone yo barokahe akeh,” . (Sistemnya orang NU itu, doanya paling banyak, paling panjang, dan banyak doa berarti insya Allah Berkahnya juga banyak). Begitulah ayah saya berkata, dan saya sejauh ini sepakat dengan beliau. Mulai dari Shalat Subuh yang selalu memakai qunut (walaupun saya pun fleksibel untuk hal ini), dzikir setelah shalat yang dinyaringkan suaranya (entah mengapa dengan dinyaringkan saya merasa lebih semangat saja), aktivitas tahlil setiap malam jum’at (percaya atau tidak, selain untuk mendahulukan pendahulu saya, aktivitas ini membuat saya kadang mengingat kematian yang kian dekat T_T), dan doa-doa yang panjang lainnya. Bahkan pengalaman saya ketika umroh di awal tahun lalu, ketika mengikuti KBIH yang berafliasi NU, buku doanya tebaaal banget. Beda dengan beberapa KBIH yang mengikuti muhammadiyah, tidak tebal-tebal amat. Hampir setiap langkah selalu ada doanya sendiri. Kalau ada yang berkata bid’ah, hmmm, coba direnungkan kembali. Doa-doa tersebut diambil dari ayat-ayat suci Al-Quran, dan saya percaya bahwa para ulama’ yang merumuskan sanadnya telah sampai pada Nabi Muhammad SAW, dan tentu mereka tidak sembarangan. Pun demikian dengan aktivitas yang lain, salah satunya adalah Shalawatan, dan peringatan hari besar islam di sini orang NU pasti selalu paling semangat. Di sinilah positifnya bahwa budaya selametan, peringatan hari besar, muludan, rajaban, akan menjadi sarana efektif untuk mensyiarkan agama islam.

Islam berkemajuan yang ditularkan semangatnya oleh Muhammadiyah, semoga mampu menjawab tantangan zaman. Bahwa aspek pendidikan modern pun harus disertai dengan nafas gerakan islami.

Sekarang beralih ke Muhammadiyah. Dibesarkan di perkotaan *ciyee anak gaul*, tepatnya Kota Malang, membuat keluarga saya harus melek akan pendidikan. Ilmu pengetahuan tidak bisa dipungkiri menjadi sebuah kebutuhan dengan semakin berkembangnya zaman. Tidak cukup dengan ilmu agama. Sebab itulah barangkali ayah saya lebih memilih dahulu saya bersekolah dengan lembaga yang menganut sistem Muhammadiyah daripada memilh memondokkan saya untuk hanya fokus belajar ilmu agama. Sebab menjadi SDM yang berkualitas sudah bukanlagi merupakan sekedar tuntutan, namun kebutuhan. Di sinilah saya mengenal islam yang berkemajuan. Kader-kader Muhammadiyah banyak sekali yang berpendidikan tinggi, ilmu teknik, ilmu alam, namun memiliki pemahaman islam yang cukup baik. Secara sistem pendidikan, saya menyukai Muhammadiyah yang bisa dengan cepat beradaptasi dengan zaman yang kian hari kian berkembang. Maka ketika SMP, saya tak ragu meneruskan di MTsN I Malang. Secara peribadatan walaupun saya terbiasa memakai sistem NU, toh saya tidak ada masalah ketika menyesuaikan di lingkungan Muhammadiyah. Toh tinggal dihilangkan saja doa-doa panjangnya. Yang biasanya berqunut, sekarang tidak. Yang biasanya bersuara nyaring saat dzikir, sekarang dalam hati. Kalau biasanya ada tahlilan, selametan, segala hal, di lingkungan ini tidak ada. Begitulah Muhammadiyah yang cenderung menyederhanakan prosesi dalam ibadah. Saya menjadi teringat ketika menonton film Sang Pencerah, KH Ahmad Dahlan saat ditanya masyarakat mengenai konsep selametan, dan lainnya, dan di film tersebut digambarkan yagn bertanya adalah masyarakat yang kurang mampu, beliau berkata jika memang tidak mampu, tidak usah diselenggarakan tidak apa-apa seperti selametan, dan lain sebagainya tersebut.

Sistem pergerakan tarbiyah memang menarik. Dengan menguasai sektor politik, dakwah, dan keilmun, bukan tidak mungkin akan lahir sebuah peradaban madani.

Lalu bagaimana dengan tarbiyah? Menurut hemat saya yang menarik adalah sistem pergerakannya. Istilah Da’awi, Ilmi, dan Siyasi yang merupakan tiga lini dakwah kampus, merupakan miniatur dari negara kita. Ketika ketiga sektor tersebut berhasil dikuasai, lahirlah kampus madani, pun demikian di negara ini, insya Allah akan terlahir negeri madani. Konsep inilah yang saya ikuti saat ini. Selain itu, sistem kaderisasi dengan mentoring mungkin bukan yang terbaik, tapi bisa saja yang paling baik untuk saat ini. Bagaimana sistem tersebut bukan hanya membentuk kelompok-kelompok liqo kecil. Lebih dari itu semakin menguatkan ukhuwah, dan kelompok liqo bisa menjadi sarana menghidupkan kembali budaya diskusi mahasiswa yang kini tidak lagi semassif zaman-zaman pergerakan nasional dahulu.  Juga adanya klustering setiap kadernya di sektor dakwah, politik, dan keilmuan menjadikan setiap kadernya mampu berkembang sesuai dengan potensi masing-masing. Terlebih mereka murobbi mereka biasanya adalah orang yang sesuai dengan bidangnya masing-masing.

NU, Muhammadiyah, dan Tarbiyah. Bagi saya adalah hal yang menarik jika kita mampu mengambil hal-hal yang baik yang disesuaikan dengan kondisi zaman saat ini. Kalau saya pribadi, dari NU saya mengambil sistem peribadatannya. Muhammadiyah saya ambil konstruksi berpikirnya yang mengedepankan Islam berkemajuan. Sementara tarbiyah pada sisi pergerakannya. Titik poin pentingnya di sini adalah jangan sampai hal-hal tersebut menjadikan kita terpecah belah. Ingatlah bahwa tujuan besar kita pastilah sama, mewujudkan izzul islam wal muslimin, kejayaan islam dan kaum muslimin.

Categories: Journey | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: