Anak NU, Sekolah di Sistem Muhammadiyah, Kuliah “kecemplung” Tarbiyah [2]

image

Hal mendasar yang barangkali membuat ayah dan ibu saya khawatir dulu ketika saya dipondokkan mungkin karena saya termasuk anak yang mudah terpengaruh lingkungan. Ya, sejak SD di MIN I Malang dulu, prestasi saya lumayan bagus karena selama 9 semester berturut-turut selalu bertahan di kelas unggulan, sekalipun tidak pernah masuk ranking 3 besar. Trend tersebut masih saya teruskan hingga SMP di MTsN I Malang dengan masuk ke dalam 10 besar parallel terus menerus selama 3 tahun. Mungkin karena itulah bahkan ketika MTsN dulu saya minta dipondokkan di Malang, orang tua saya tidak mengizinkan. Menyesal ? Iya, tapi pasti akan selalu ada hikmahnya.

Mungkin ayah saya juga berusaha melawan tradisi yang ada di keluarga. Kata beliau ketika saya dahulu di masukkan ke Madrasah Ibtidaiyah Negeri I Malang, yang sebenarnya memang merupakan sekolah negeri favorit di Malang, banyak anggota keluarga lain yang bertanya. “Lha opo’o kok gak dipondokne wae, cek ngajine iso apik”. Namun ayah saya tetap kukuh dengan pilihannya.

“Lha opo’o kok gak dipondokne wae, cek ngajine iso apik”.

Setelah saya mencoba analisis, ada benarnya juga ayah saya. Mungkin beliau ingin mendidik saya dengan apa yang tidak beliau dapat ketika masa kecil, yaitu ilmu pengetahuan eksak. Beliau bercerita semasa kuliah Ilmu Administrasi Pendidikan di UM Malang, begitu keteteran ketika menghadapi matematika, bahasa inggris, dan sejenisnya. Maklum saja lulusan PGA (Pendidikan Guru Agama) yang outputnya ya apa lagi kalau bukan Guru Agama, namun karena “aksi nekat” ayah saya yang ikut seleksi perguruan tinggi, akhirnya beliau diterima atas izin Allah dan bertarung di dalamnya.

Disinilah saya bersyukur memiliki sosok ayah yang begitu open minded terhadap perkembangan zaman. MIN I Malang sendiri memang di bawah naungan DEPAG dan lebih cenderung netral, namun secara struktur peribadatan yang diajarkan lebih banyak dengan sistem Muhammadiyah. Mulai dari doa iftitah yang diawali “Allahumma… dst”, bacaan-bacaan shalat tanpa kata “Sayyidina” untuk menyebut nama Muhammad, tarawih 8 rakaat, dan lain sebagainya.

Salah satu momen lain yang saya ingat adalah saat kelas V MIN I Malang, pada waktu itu awal nge-hits nge-hits nya ESQ Training. Pada waktu itu, kami semua diberikan tugas menghafal Asmaul Husna dengan lagu yang dibuat oleh tim ESQ. Singkat cerita alhamdulillah kami semua, siswa MIN banyak yang mampu menghafal. Ketika pulang kampung ke Mojokerto, selepas mengumandangkan azan di langgar (musholla), seperti biasa sambil menunggu shalat kami menyanyikan shalawat, dan pujian-pujian yang lainnya. Lalu ayah saya nyeletuk di belakang saya, coba diganti asmaul husna. Pada mulanya warga kampung beberapa terkejut, namun mereka ternyata bisa menerimanya. Bahkan beberapa minta diajarkan saya lagunya untuk dihafalkan, yang akhirnya kertas berlogo ESQ yang terdapat tulisan asmaul husna dahulu, digandakan dengan banyak oleh nenek saya, dan dibagikan ke orang-orang di kampung halaman.. Ya, pembelajaran yang saya dapatkan dari islam berkemajuan, begitu diterima oleh masyarakat islam di kampung halaman.

Ya, pembelajaran yang saya dapatkan dari islam berkemajuan, begitu diterima oleh masyarakat islam di kampung halaman.

Pun demikian ketika SMP di MTsN I Malang yang terletak di sebelah MIN I Malang (karena konsepnya madrasah terpadu, dari TK hingga SMA di satu kompleks). Dua institusi inilah yang secara tidak langsung mengaplikasikan Islam Berkemajuan ala Muhammadiyah. Pendidikan ilmu eksak dan ilmu agama islam yang disatukan dalam sebauh lembaga institusi pendidikan, dan diberikan kepada para muridnya.

Masa kecil, TK, MI, dan MTs dalam hemat saya telah memberikan wawasan dan pengalaman yang begitu berharga. Masa itulah saya bisa mengenal dua ormas besar di Indonesia, Nahdatul Ulama’ dan Muhammadiyah. Demikian juga ketika masa MI dan MTs dahulu, ketika saya mendapatkan kesempatan menjadi da’i cilik. Ayah saya selalu melatih dan men”setting” saya agar sesuai dengan lingkungan tempat saya berceramah, bahkan sampai ke hal-hal yang detail.

Seorang dai harus mampu menyesuaikan audience atau penontonnya.

Ketika di lingkungan NU, maka saya diarahkan ayah saya untuk mengajak jamaah pengajian bershalawat, guyonan khas dengan bahasa jawa, dan mengakhiri ceramah dengan “Wallahul muwaafiq ila aqwamitthoriq..”. Ketika di lingkungan Muhammadiyah, maka ayah menginstruksikan saya untuk shalawat diganti dengan lagu-lagu nasyid, lagu-lagu opick, dan lagu islam lainnya, dan mengakhiri ceramah dengan “Billahittaufiq wal hidayah”. Pada waktu itu ayah pun juga menambahkan begitulah menjadi seorang da’i, harus mampu menyesuaikan audience atau penontonnya. Pun demikian saat saya melihat ayah saya berkhutbah di Masjid NU dan Muhammadiyah, beliau mampu menyesuaikan dengan baik. Pembelajaran lagi yang saya dapatkan dari beliau bahwa menjadi pembicara pada hakikatnya kita bisa menyesuaikan dengan penonton agar mengambil hatinya terlebih dahulu. Sesudah hati mereka mampu diambil, kita bisa mengarahkan ceramah ke topik lain yang lebih serius. Ternyata konsepsi menjadi pembicara yang diajarkan ayah saya, sama dengan konsepsi mencintai orang ya *lhoalaah salah fokus* *peace*

Dan ternyata nilai moderat itu telah diperkenalkan kepada saya dahulu, tanpa saya menyadarinya….

Sekarang, ketika mendapat kesempatan menimba ilmu di Rumah Kepemimpinan PPSDMS, salah satu nilai yang ditanamkan adalah islam yang moderat. Setelah merenung panjang, saya ternyata menyadari bahwa konsepsi inilah yang telah diajarkan oleh kedua orang tua saya semasa saya kecil dahulu. Bedanya saya mengalaminya langsung, di masa kecil dengan nilai-nilai luhur ke-NUan dari keluarga besar saya, dan nilai-nilai luhur Muhammadiyah dari institusi tempat saya menimba ilmu. Betapa indahnya ketika kedua nilai tersebut saling melengkapi, dan betapa dahsyat gerakannya. Lalu bagaimana dengan tarbiyah? Tunggu catatan saya selanjutnya

Categories: Journey | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: