Ibu, Sekolah pertama Kami

devilukitasari:

maryamqonitat:

Adalah ibu, seorang wanita biasa yang menjadi luar biasa di mata anak-anaknya. Terlalu banyak moment berharga yang bisa diingat oleh saya, sebagai salah satu anaknya. Terlalu banyak kisah, inspirasi, pelajaran, dan hikmah yang tak bisa dilewatkan oleh memori saya sebagai putri pertamanya.

Ibu, begitu kami memanggilnya semenjak kecil. Bagi kami, memanggil ibu; berarti kami butuh sesuatu. Memanggilnya, juga terkadang, kami bertanya tentang suatu hal yang tidak kami fahami. Tapi bagi saya yang menghabiskan 15 tahun jauh dari Ibu, lebih sering memangilnya karena rindu. Rindu pada pelukannya, rindu akan nasihatnya, rindu akan masakannya, bahkan rindu akan ‘omelan sayangnya’.

Layaknya seorang ibu, jutaan kasih sayangnya selalu melimpah tak ada habisnya bagi kami anak-anaknya. Meski kami 11 bersaudara, Ibu tidak pernah membeda-bedakan kasih sayangnya diantara kami. Semisal tidak mengistimewakan kakak kedua kami Mas Faris yang super pintar dan paling muda menghafal Al-Qur’an. Atau memberikan uang lebih banyak kepada adik saya yang tampan, lucu dan pintar, Yusuf.

Perhatian ibu selalu ada untuk kami sejak dari kecil, bahkan kini beberapa diantara kami sudah berkeluarga. Ibu selalu merasa ingin membelikan baju baru untuk kakak pertama kami, Mas Aaf, karena ia adalah anak pertama yang sudah banyak mengalah kepada 10 orang adiknya sejak umurnya masih kecil. Sedangkan Ibu selalu ingin membuatkan rendang untuk Mas Faris karena rendang Ibu adalah masakan kesukaannya, dari Mas Faris di pesantren Kudus, hingga sekarang belajar di Saudi Arabia. Bagi saya sendiri, Ibu rela menyisakan pempek palembang dan dibawanya ke Malaysia, pasca saya melahirkan anak kedua saya. Namun, ibu tidak pernah lupa, selalu merasa perhatian kepada adik perempuan saya, Ifah, yang punya badan ringkih dan mudah jatuh sakit. Ibu juga tidak lupa dengan Ahmad, adik saya yang sekarang masih kuliah di Malaysia. Jika Ahmad lama tidak pulang, ibu akan berkata, “Ibu kangen suara nasyidnya uhaimid.” Begitu juga dengan adik saya Ismail dan Yusuf yang sedang kuliah di UI dan sibuk dengan dunia kampusnya. Ismail, berkali-kali ganti Handphone dan Ibu selalu peduli. Yusuf yang selalu ditunggu Ibu karena dapat menghibur Ibu dengan cerita-cerita lucunya. Berbeda dengan kakak-kakaknya, adik saya yang bernama Basyir, mempunyai suara istimewa ketika membaca Al-Qur’an, dan Ibu selalu merasa bangga dengan merekam suara-suaranya dan memutarnya lagi. Untuk Rosyad, adik saya yang spesial dan susah makan saat kecil, Ibu tidak pernah putus asa mendoakan Rosyad. Harapan Ibu sama besarnya dengan harapannya kepada anak-anaknya yang lain bahwa suatu saat, Rosyad akan menemukan dunianya sendiri. Ibu bahkan menangis haru saat Rosyad diterima di HI Unpad. Dan untuk bungsu kami, Himmah yang tidak pernah kena marah Ibu.

Begitulah ibu, yang hingga kini masih mencium dahi, pipi anak-anaknya di depan public, bahkan saat kami sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Ibu yang selalu setia pergi ke dapur pagi-pagi membuat sarapan untuk kami sekelurga, bahkan dengan padatnya jadwal aktifitasnya.

Ibu yang nyaman dijadikan tempat bercerita, bahkan saat kami sedang galau muda ria, dengan perkataan khasnya, “Suka sama lawan jenis itu fitrah, tapi bagaimana cara kita mengendalikannya yang penting.” Ibu yang selalu hebat saat bercerita, sehingga kami selalu merasa tertartik dengan cerita-ceritanya, sampai kami besarpun, suka tidur di sekelilingnya untuk mendengarkan cerita dan nasihatnya.

Ibu, yang hampir semua orang yang mengenal karakternya, selalu mengatakan, “Ibumu ini orang hebat, Ta.” Bagaimana tidak? Mempunyai 11 orang anak bukan hal yang mudah. Terutama dalam membesarkan dan mendidiknya. Namun inilah yang membentuk karakter ibu sebagai wanita yang kuat namun mudah menangis saat melihat anaknya sakit atau ketika ibu disakiti kehormatannya. ibu juga mandiri dan tidak manja kepada Bapak, bahkan dalam hal financial. Itu juga yang barangkali membentuk Ibu menjadi pribadi perfectionis, yang peduli dari hal mengupas bawang, merapihkan rumah, “Pagi-pagi itu, beberes rumah. Inisiatif ambil sapu, pel, beberes kamar, rapihkan barang-barang. Ibu mah dari kecil nggak bisa lihat rumah berantakan. Gimana mau ngurus negara kalau ngurus rumah sendiri nggak beres?”, menyetir mobil, mengurus anak sampai mengurus ummat dan Negara.

Ibu adalah Ibu rumah tangga, istri, pendidik, pengajar, daiyah, orator, politisi, muballighoh, aktifis, dan pejabat negara. Namun semua itu, tidak lantas membuatnya menjadi sosok yang angkuh dan jumawa. Ibu lebih memilih untuk hidup sederhana dan sahaja. Termasuk dalam berpakaian, Ibu sangat terkenal dengan gaya berkerudung syar’I, dan tidak mengikuti trend berhijab yang menor. Ibu bahkan tidak pernah memakai make-up kecuali saat harus tampil di depan layar tv. Itupun make up tipis tanpa kentara. Sehinggalah, orang-orang disekelilingnya menghormatinya.

Ibu juga sangat pandai dalam beretorika. Kepiawainnya dalam public speaking diwarisi oleh anak-anaknya, yang dalam banyak kesempatan selalu dipelajari oleh kami saat Ibu mengajak kami dalam safari dakwahnya ke dalam maupun luar Negeri. Sebutlah nama kota di Indonesia yang sudah dikunjungi oleh Ibu; Aceh, Padang, Lampung, Bandung, Garut, Surabaya, Semarang, Solo, Bali, Makassar, Papua, atau negara seperti Malaysia, Abu Dabi, Saudi, Mesir, Brunei, dan tanyakan pada kami siapa yang pernah ikut Ibu ke kota-kota tersebut. Dalam rangka apa? Ibu selalu yakin bahwa kami anak-anaknya kelak lah yang akan mewarisi perjuangan Bapak-Ibunya dalam berdakwah. Karenanya safari dakwah itulah salah satu moment pewarisan nilai dakwah yang ingin Ibu tanamkan pada kami. Bahkan, dalam beberapa kesempatan saat Saya sedang di Kudus, Kuningan, Mesir dan Malaysia, Ibu datang dalam rangka safari Dakwah, sedangkan menengok anak adalah agenda ‘sekalian’. Mungkin berkat kerja keras Ibu dan Bapak lah, atas izin Allah, kami pun mewarisi perjuangan Ibu di dalam barisan dakwah yang sama.

Alhamdulillah..
Diatas semua itu, tentu Kecintaan Ibu pada Allahlah yang melandasi semua pendidikannya kepada kami. Sehingga mampu menghntarkan kami menjadi penghafal Al-Quran di usia belia. Ibu selalu berkata, “Semua anak ibu bisa mengaji saat umur 5 tahun, membaca, menulis, semua ditangan Ibu.” Sesibuk apapun aktifitasnya, Ibu tak pernah melewati masa emas anaknya.

Karenanya, jika ditanya momen apa yang paling berkesan dan menjadi inspirasi bersama Ibu, saya tidak mampu menjawabnya. Karena hakikatnya, semua momen adalah momen berharga. Ibu sudah berkorban sedemikian rupa mengandung, melahirkan, menyusui, memberi makan, mendidik, membesarkan, bukan dalam kondisi berlimpahan harta.

Ibu adalah lautan kasih yang tak bertepi, permata bagi kami, samudera bagi kami, yang darinya kami belajar bahwa Ibu adalah sekolah pertama kami, sehebat dan setinggi apapun ilmu kami. Untuk ibu yang pengorbanannya tak mampu terbalas oleh semua materi, Selamat Hari Ibu. Doa kami senantiasa terucap, dimana pun kami berada. Wahai Allah yang maha Agung, ampunkanlah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami di waktu kecil. Angkatlah derajat mereka ya Allah, dan ampuni keterbatasan kami dalam membalas semua kebaikannya.

Ditulis untuk buku ‘kado ibu’ yang dicetak oleh BPKK DPP PKS dalam rangka memperingati hari ibu.

Tepat setahun lalu, saya bertemu, bersalaman dan didoakan oleh beliau, Ustadzah Wirianingsih :’’’) you’re so inspiring muslimah, Ustadzah…

Inspiring woman, should i can have like her ? 🙂 

Categories: Islam | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: