Catatan #KPleri (2) : Inspirasi dari Pejuang Al-Qur’an

Izinkan ku menuliskan artikel ini sebagai sebuah penyemangat diri dan kita semua. Barangkali kita masih malas untuk membaca Al-Quran. Yang barangkali kita masih ragu untuk menghafalkannya. Padahal bukankah surga yang Allah janjikan kepada orang-orang yang memuliakan Al-Quran. Barangkali pula tulisan ini adalah rasa syukurku kepadaNya yang memberikan kesempatan dan nafas kepadaku untuk menghadiri sebuah event yang begitu bergengsi. Ya, sebab di sinilah para wajah-wajah yang Insya Allah bermandikan cahaya surga berkumpul, berkompetisi, beradu kecintaan pada Al-Quran.

Tepat tanggal 1-8 Agustus 2015 yang lalu, sebuah event besar yaitu MTQ Mahasiswa Nasional XIV diselenggarakan di Universitas Indonesia. Tentu saja ITS tak ketinggalan untuk berpartisipasi dalam event tahunan yang telah diselenggarakan ke-14 kali ini. Kebetulan ada tiga rekan yang saya kenal dalam event ini yang turut mewakili delegasi ITS. Mereka adalah Misbahul Munir (Lomba Karya Tulis Al-Quran), Syakir Almas Amrullah (Lomba Musabaqah Fahmil Quran), dan Diani Ainun Nisa (Lomba Musabaqah Tilawatil Quran). Jadilah weekend pertama dan kedua saya yaitu tepatnya tanggal 31 Juli 2015, dan 7 Agustus 2015 saya pergi ke Universitas Indonesia untuk mengikuti pembukaan di awal yang katanya sih begitu meriah, serta penutupan untuk mengikuti pengumuman pada tanggal 7 Agustus 2015.

Sekitar pukul 18.20 saya baru sampai di Stasiun Universitas Indonesia. Kemudian saya langsung menuju ke Masjid Ukhuwah Islamiyah untuk melaksanakan Shalat Maghrib. Kemudian saya bertemu dengan Syakir dan Misbah lalu kami pergi ke Balairung bersama untuk mengikuti pembukaan.

Malam itu sebanyak 1863 peserta yang mengikuti pembukaan tersebut, membuat saya bergetar berada di sekitar mereka. Bagaimana tidak. Dibandingkan dengan saya mereka tentu jauh lebih memahami tentang Al-Quran. Mereka lah pejuang-pejuang Al-Quran yang saat itu sedang berkompetisi. Barangkali kejuaraaan itu hanyalah bonus bagi mereka dari Allah SWT sebab mereka telah mewaqafkan diri menjadi pejuang Al-Quran.

Dalam pembukaan itu, Rektor UNSRI yang baru terpilih, Prof. Dr. Ir. H. Anis Saggaff, MSCE, mendapatkan kehormatan untuk membacakan Al-Quran pada pembukaannya. Untuk kesekian kalinya hati saya bergetar. Bapak Anis, yang merupakan lulusan Teknik Sipil dan menjadi rektor UNSRI ini adalah seorang yang Hafid Al-Quran. Beliau bahkan menjadi salah seorang jebolan pemenang Hafidz Quran Nasional pada tahun 1983.

Suasana yang mulanya ramai mendadak hening ketika beliau maju membuka dengan bacaan Al-Quran-nya. Tanpa terasa air mata saya menetes, mendengar bacaan beliau. Suaranya begitu merdu, mendayu-dayu menggema di gedung Balairung UI. Benarlah janji Allah barangsiapa yang mau mengisi hari-harinya dengan Al-Quran maka Allah tentu akan mengangkat derajatnya baik di dunia maupun di akhirat. dan salah satunya adalah beliau, Pak Anis, yang menjadi seorang rektor. Background beliau di Teknik Sipil tiada menjadi penghalang untuk menghafalkan Al-Quran.

Acara pun selanjutnya dimeriahkan dengan berbagai penampilan kesenian islam. Mulai dari tarian, musik khas islam, serta berbagai kesenian khas islam lainnya. Ah, sayangnya event yang begitu luar biasa seperti ini tidak dijadikan headline besar-besaran oleh media. Sebab bagiku itu luar biasa. Hampir 2000 orang pejuang dan pecinta Al-Quran berkumpul dalam satu tempat dan menyuarakan kecintaannya melalui lomba di sana.

Kemudian terakhir, lagi-lagi hati ini bergetar. Pertunjukan yang paling menarik bagiku adalah saat ada penampilan pembacaan Qiraah Sab’ah. dan Masya Allah, lagi-lagi Bapak Anis pun maju untuk menampilkan bacaan Qiraah Sab’ah nya. Hadir pula Bapak Said Agil Siraj, serta satu orang lagi *saya lupa namanya*. Sehingga mereka bertiga ke depan secara berantai membacakan ayat Quran.

Saya pun kembali merinding, bahwa ketiga tokoh tersebut, tentu usianya sudah tidak muda lagi. Sudah beruban. Namun Allah pun menjaga keindahan suara dan kefasihan bacaan Al-Quran mereka. Sekali lagi benarlah janji Allah, bahwa siapa yang menjaga Al-Quran, maka Allah akan menjaganya.

Dari acara itu rasanya diri ini semakin kecil. Semakin tidak ada apa-apanya. Lalu masih pantaskah jika diri ini memohon kepadaNya untuk dimudahkan masuk ke dalam surgaNya? Terima kasih kepada rekan-rekanku para pejuang Al-Quran di MTQ MN, sebab karena kalian lah, wasilah yang dibawa oleh Rasulullah SAW berabad-abad yang lalu tetap terjaga.

Ah, barangkali malam itu aku hanyalah redup di antara ribuan cahaya yang bersinar
Jika mereka seterang bintang, barangkali aku adalah bumi
Jika mereka seterang bulan, barangkali aku hanyalah bintang
Jika mereka seterang mentari, barangkali aku hanyalah bulan
Padahal cahaya mereka bersumber dari Al-Quran
Aduhai kawan, siapakah yang tak ingin memiliki cahaya seperti itu?

Categories: Campus, Journey | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: