Percakapan Seorang Anak dengan Orang Tuanya

“Kamu yakin akan melakukannya? Sudah
kau pikirkan matang-matang kah? Sudah siapkah dirimu?”tanya ayah kepadaku.
Sementara aku hanya menunduk diam, tak mampu berkata-kata. Entah merasa sudah
kehabisan kata-kata, atau jangan-jangan aku belum siap melakukannya. Ayah diam
dan aku pun diam. Ia beranjak pergi, seakan hanya menganggap itu hanya gejolak
sementara belaka. Lalu ibu datang, menghampiriku dengan tenang. Ah, entah
mengapa selalu ada aura yang menyenangkan dan mampu menenangkan dari dalam
hatinya.                    

“Sini tunjukkan kepada ibu! Nggak usah malu-malu. Masa’ sama orang tua
sendiri malu!”ujarnya tegas. Pipiku memerah. Kuserahkan tab-ku ke ibu. “Hmm, cantik
kok anaknya. Sudah sejauh mana berkomunikasi?”tanyanya padaku. Aku menggeleng
keras. Mengatakan dengan penuh kejujuranku bahwa aku tetap ingin menjaga
prinsipku. Takkan mungkin kulangkahi prinsip yang telah kupegang sejak SMP
dulu. Tak mungkin kulangkahi agamaku yang telah mengajarkan adab mengenai hal
itu. “Cuman ini? Katamu ada beberapa?”tanya ibu lagi. Pipiku semakin memerah,
tapi aku harus berani Untuk apa aku malu jika ini adalah sebuah kebaikan yang
kan mendatangkan kemuliaan di sisiNya. Bukankah ridha orang tua adalah yang
utama?.

“Hmm, yang ini anak mana?” tanya ibuku. Aku menjawab sekenanya, sebab aku
barangkali terlalu gugup. “Waduh, jangan jauh-jauh lah, nanti kalau mau mudik
gimana? Cari yang dekat-dekat lah,”tambah ibuku. Beliau tampak serius sekalipun
tiba-tiba tersenyum. Rupanya beliau tak pernah serius. Dirangkulkannya kedua
tangannya kepadaku.

“Kamu tahu? Dia nanti harus mau jikalau hidup susah bersamamu. Dia lah
yang nanti akan menjadi penentu jalanmu, apakah kamu akan mencapai tapak-tapak
menuju surgaNya, atau justru kau terjerumus dalam nerakanya. Dia pula yang akan
menjadi madrasatul ula, sekolah pertama bagi anak-anakmu. Dia dan kamu nanti
harus mengalah demi kesehatan dan kebaikan anak-anakmu.”

“Ibu jadi ingat saat masa-masamu
bayi dahulu, bagaimana seringkali malam terbangun karena tangismu, bagaimana
membersihkan kotoranmu, bagaimana rasanya sering tertidur saat menggendongmu. Bahkan
ayahmu rela hanya makan nasi, kelapa parut, dan garam, demi membelikan gizi
untukmu. Demi membelikan susu terbaik untuk ASI kepadamu. Tak jarang kami
berdua berpuasa sambil senantiasa mendoakanmu, agar kami senantiasa dikarunia
keturunan yang shaleh. Bahkan kala itu dengan status ayahmu yang masih dosen
muda, seringkali kami hanya makan ala kadarnya berhari-hari, namun gizi dari
susu dan buburmu tetap kami jadikan nomor satu. Siapkah dia yang mendampingimu
kelak seperti itu?”

Lalu ayah datang. Kembali
kepadaku yang masih tertunduk malu. “Persiapkanlah, masih ada waktu, ayah pasti
merestuimu asal kau menunjukkan kesiapanmu!”

Aku tersenyum. Kupeluk meraka,
dan kukuatkan langkah dan tekadku. Jika ini adalah sebuah Sunnah yang begitu
dirindukan, tidakkah pahala kan menyertai dalam setiap tetes keringatku kala
memperjuangkannya?

Categories: Tulisan | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: