Resensi Buku : Api Tauhid

Jika saya punya seribu nyawa, saya siap mengorbankan semuanya demi membela satu kebenaran syariat. Karena ia adalah sumber kebahagiaan dan kesejahteraan. TETAP TIDAK DENGAN CARA YANG DILAKUKAN PARA PEMBERONTAK DAN PERUSUH ITU! – Badiuzzaman Said Nursi

Sempat beberapa waktu memendam, akhirnya pada tanggal 7 Mei 2015 yang lalu saya pergi ke Islamic Book Fair dan memborong banyak buku-buku bacaan. Salah satunya adalah Novel Sejarah yang katanya begitu fenomenal ini, siapa lagi penulisnya kalau bukan Kang Abik, – sapaan akrab Habiburrahman El Shirazy.

Barangkali hanya segelintir penulis di Indonesia yang mampu membawa sejarah dalam sebuah novel sehingga membacanya pun menjadi menarik dengan alur cerita yang ganda di dalamnya, di sisi lain bercerita tentang kehidupan tokoh fiksi yang diluksikan dalam novel tersebut. Di sisi lain pula bercerita tentang kehidupan tokoh nyata yang diluksikan dalam sejarah tersebut. Tokoh fiksi tersebut bernama Fahmi, Mahasiswa asal Indonesia yang sedang berkuliah di Universitas Islam Madinah, dan tokoh sejarah tersebut adalah Syekh “Badiuzzaman” Said Nursi, ulama’ besar asal Turki yang hidup pada masa pemerintahan sekulerisme Turki sekitar tahun 1890-an hingga 1960-an.

Dirundung rasa penasaran yang tinggi novel setebal ini mampu saya selesaikan hanya dalam waktu sekitar 2 hari satu malam saja, itu pun sambil menjalani beberapa aktivitas. Malamnya saya begadang hingga pagi karena begitu penasarannya dengan novel ini. Dalam keheningan malam tersebut, saat saya membaca saya serasa berada di tiga negara. Pertama di Madinah ketika sosok Fahmi, asal Lumajang itu menghabiskan hari-harinya di Masjid Nabawi untuk mengkhatamkan Quran. Hal itu pun menghadirkan memori tersendiri bagi saya terlebih saat beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan ibadah umroh. Tentang mudahnya meneteskan air mata, tentang nur Muhammad yang seakan menyinari masjid nabawi, serta tentang beberapa keajaiban yang saya alami selama di Madinah.

Cerita dimulai dengan sosok Fahmi yang menghabiskan tujuh hari terakhirnya di Masjid Nabawi untuk iktikaf tanpa henti. Ia ingin mengkhatamkan Al-Quran sebanyak 40 kali. Hingga kawan-kawan asramanya pun mencarinya. Pada hari ke delapan ia telah 12 kali mengkhatamkan Quran. Ia ditegur oleh Ali, teman satu kamarnya bahwa hendaknya ia tak menyiksa diri. Namun Fahmi tetap teguh pendiriannya. Hingga hari ke lima belas berada di masjid Nabawi, ia pun akhirnya kembali didatangi Ali. Kali ini ia tak sendiri, bersama Hamza, kawannya yang lain. Yang mereka temukan justru Ali yang tak sadarkan diri sembari meneteskan darah dari hidungnya. Singkat cerita Fahmi masuk rumah sakit, dan benarlah bahwasanya ia sedang dirundung masalah yang begitu berat hingga melahirkan keputusan nekadnya untuk beribadah tiada henti. Untuk menghibur dirinya, ia diajak Hamza, rekannya sesama mahasiswa yang berasal dari Turki untuk menapaktilasi jejak salah seorang ulama’ besar Turki, Syekh Badiuzzaman Said Nursi. Tawaran itu pun ia terima bersama Subki, rekannya sesama mahasiswa Indonesia. Kebetulan mereka sedang libur selama tiga bulan.

Maka jadilah mereka bertiga ditambah Emel dan Aysel, keluarga perempuan dari Hamza yang berasal dari Turki mengelilingi Turki dengan mobil Hamza. Sepanjang perjalanan mereka mendapatkan cerita dari Hamza tentang tempat-tempat bersejarah di Turki, dan tentang jejak hidup Said Nursi.

Said Nursi lahir dari pasangan suami istri Mirza dan Nuriye. Di antara semua saudara-saudaranya, ia terlihat paling menonjol. Hal itu ditunjukkan sejak kecil ia begitu bersemangat belajar tentang agama Islam kepada ayahnya. Bahkan ia sering mengikuti diskusi dan perdebatan-perdebatan keagamaan bersama ayahnya semasa ia masih kecil sekali. Di usianya yang masih 15 tahun ia telah mampu menghafal dan memahami 80 kitab karya ulama’ klasik. Daya hafalnya sungguh sangat luar biasa. Bahkan beliau hanya membutuhkan waktu 2 hari untuk menghafal Al-Quran. Karena keajaibannya itulah gurunya, Muhammed Emin Effendi memberikannya julukan Badiuzzaman yang artinya keajaiban zaman.

Di usianya yang masih muda ia pun berani berkelana dari satu daerah ke daerah yang lain. Bahkan melewati hutan sendirian, tidur di tengah ancaman binatang buas. Namun setiap kali ditanya apakah dia tidak takut, jawabannya sama. Ia hanya takut kepada Allah, sebab hidup dan matinya hanyalah milik Allah semata. Hingga di usianya yang masih muda seringkali banyak orang yang iri kepadanya. Bahkan ulama’-ulama’ serta guru-guru dari berbagai sekolah tak jarang banyak yang mengetesnya dengan berbagai pertanyaan yang kesemuanya mampu dijawab Said Nursi tanpa keraguan sedikit pun. Dan dalam beberapa kali uji publik, Said Nursi mampu melewatinya dengan baik.. Hal itu menjadikannya memiliki banyak pengikut di usianya yang masih muda.

Semangatnya untuk belajar selalu tidak kenal padam. Di usianya yang 9 tahun ia menyatakan ingin belajar di madrasah tempat kakaknya mengajar. Padahal syarat minimalnya haruslah berusia 12 tahun. Hingga selama belajar di sekolah karena Said paling kecil ia di buli oleh teman-temannya. Namun Said adalah seorang pemberani. Ketika di buli, ia tidak hanya diam saja, namun melawan  walaupun pada akhirnya kalah karena ukuran tubuhnya masih kecil pada waktu itu. Kemudian ia berpindah pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Hingga puncaknya pada usia 15 tahun ia berhasil menguasai 80 kitab yang seharusnya dikuasai orang biasa selama 15 tahun – 30 tahun.

Perjanalannya ke berbagai daerah dalam berdakwah tak ayal menjadikan nama Badiuzzaman Syaikh Said Nursi begitu terkenal. Ia selalu dinanti dimanapun berada akan tausiyah dan pemikirannya. Pada awalnya keberadaannya tidak dianggap berbahaya oleh Pemerintahan Sekulerisme Turki pada masa itu. Namun, keterlibatannya pada dunia politik, serta pemikirannya yang menyebar melalui tulisannya menyebabkannya seringkali ditangkap. Bahkan pernah ia nyaris dijatuhi hukuman mati. Namun Said Nursi tak pernah gentar. Ia terus berdakwah dari satu daerah ke daerah yang lain. Pada perang dunia pertama bahkan Said Nursi menyerukan jihad.

Hingga fase akhir hidupnya ia habiskan berpindah dari satu penagasingan ke pengasingan lainnya. Dari satu penjara ke penjara lainnya. Justru pada fase itulah ia mampu menulis sebuah karya fenomenal tentang Tafsir Al-Quran setebal kurang lebih 6000-an halaman yaitu Risalah Nur. Selama di penjara tak jarang ia menulis dengan kertas bekas bungkus rokok penjaga, sisa-sisa daun, atau lainnya. Kemudian dilemparkannya keluar penjara dan diluar terdapat murid-muridnya yang diam-diam memungutnya dan menjadikannya buku setebal itu.

Syaikh Said Nursi merupakan tokoh pembaharu yang juga mengenalkan sistem pendidikan baru, kombinasi ilmu pengetahuan umum dan agama dalam sistem pendidikan modern Turki. Beliau pun dikenal sebagai sosok yang Nasionalis dan Islamis. Beliau begitu mencintai Turki dan tak pernah ragu ketika diminta berjuang untuk Turki.

Lalu bagamana dengan kisah Fahmi? Sentuhan roman dalam novel ini sudah dimulai ketika Fahmi diminta oleh Pak Lurah desanya untuk menikah dengan putrinya, Nur Jannah. Menghadapi permintaan itu, keluarga Fahmi pun memutuskan untuk istikharah. Belum tuntas istikharahnya, datang Kyai Arselan, seorang Kyai besar di Lumajang, meminta agar Fahmi bersedia menikahi Nuzula, anaknya. Singkat cerita mereka menikah, lalu berpisah karena Fahmi harus melanjutkan tesisnya di Madinah. Namun apa yang terjadi? Memasuki bulan keempat pernikahan, Kyai Arselan datang ke Madinah dan meminta Fahmi menceraikan Nuzula. Belum usai permasalahan itu, muncullah sosok Emel dan Aysel, Gadis Turki yang menemani perjalanan Fahmi. Aysel gadis Turki yang semasa hidupnya sudah biasa mencandu seks bebas, dan sosok Emel yang begitu cantik dan Hafal Quran serta pemahaman agamanya yang baik. Lalu ke manakah cinta Fahmi kan melangkah?

Kombinasi sejarah heroisme Syaikh Badiuzzaman Said Nursi serta Kisah Cinta Romantis Fahmi menjadi hal yang luar biasa dalam buku ini. Seperti gaya bahasanya biasanya, Kang Abik selalu mampu melukiskan kondisi dalam novel hingga membuat bayangan ini melintasi tiga negara. Indonesia – Turki – Saudi Arabia. Overall saya memberikan nilai 9/10 pada novel ini. Buku ini pantas untuk kita semua yang masih mungkin barangkali malas dalam membaca sejarah. Terkesan berat padahal sesungguhnya ringan dan nikmat untuk dibaca.

Categories: Resensi Buku | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: