Bagaimanapun Juga Aku Tetap Merindukan Indonesia

Bagaimana pun juga, aku tetap merindukan Indonesia. Terhitung selama 23 hari di tahun 2015 aku meninggalkan negaraku. Menjelajah 4 negara di Asia. Adalah salah satu resolusiku yang ingin mengunjungi 3 benua di tahun 2015 ini, telah kutuliskan dalam visualisasi mimpiku sebagai salah satu tujuan hidupku. Maha Suci Allah yang telah mengizinkanku di awal tahun, rentang Januari-Februari. Ketika hanya kutuliskan 3 Benua, dalam bayanganku sesungguhnya hanyalah 3 negara saja, atau satu negara di satu benua. Namun Maha Suci Allah yang atas kuasanya, sekalipun “hanya” 1 benua saja, ternyata Allah menjawabnya dengan 4 negara.

Dimulai dari 26 Januari hingga 29 Januari yang lalu, saat berkesempatan mengunjungi Malaysia. Masih teringat siang hari di tengah liburnya asrama aku datang seorang diri di tengah asrama yang masih sepi. Bersiap menuju negeri Jiran. Negeri yang dikenal sebagai negara yang perekonomiannya maju di Asia Tenggara. Malam hari pesawat berlepas landas dari Juanda. Sempat ada sedikit kekhawatiran, karena untuk pertama kali aku pergi tanpa keluargaku dan orang tuaku.

Singkat cerita malam itu, sampailah aku di KLIA Airport. Dengan keterbatasan dana, dan membawa tas layaknya backpacker, malam itu kami aku tidur di Surau KLIA. Dan cukup banyak ternyata orang-orang yang serupa dengan kami di sana. Namun tak masalah, karena bandara tersebut bersih, nyaman dan dengan berat hati kukatakan barangkali belum ada bandara di Indonesia yang menyerupainya.

Tak terasa waktu menujukkan pukul 05.00. Di Malaysia Subuh masih jam 06.00, sementara bus yang membawaku ke Puduraya Bus Station berangkat pukul 05.30. Aku bangun, masih sempat kulaksanakan Tahajjud malam itu. Hingga kulanjutkan perjalanan ini menuju ke lokasi. Pagi itu untuk kali pertama ku beli masakan Malaysia yang terkenal dengan Nasi Lemaknya. Hmmm, lima ringgit atau sekitar 17.500 rupiah. Dengan uang seperti itu seharusnya bisa menjadi jatah makanku dalam sehari di Indonesia. Hingga tidak ada alasan tuk tidak berkata, Aku Sudah Rindu Indonesia.

4 hari conference telah kulalui, dan sampailah aku pada tanggal 29 Januari. Hari di mana aku bukan kembali ke Indonesia. Tapi meneruskan perjalanan ini ke Hong Kong, untuk mengikuti konferensi lain. Tak terasa 4 hari ini bisa dibilang “gizi” ku terpenuhi. Service level yang diberkan panitia cukup membuatku selalu kenyang. Namun kembali yang kurindu. Nyaris setiap hari di Malaysia, bahkan ketika aku membeli makanan pun tak kutemukan sayuran bening, entah itu sop atau apapun. Ya, secara makanan entah mengapa yang dinamakan Nasi Lemak, nasi khas Malaysia ini mengandung banyak lemak sesuai namanya. Dan entah aku yang tidak menemukan, atau memang jarang, tidak ada sayuran segar yang biasa di makan orang Malaysia.

Beberapa hal yang menjadi catatan perjalananku selama di Malaysia. Pertama apalagi kalau bukan kebersihan. Betapa jauh kebersihan ibu kota Malaysia di Kuala Lumpur dengan Ibu Kota Indonesia di Jakarta. Kedua, barangkali karena memang Malaysia negara islam, selama di sana hampir aku tidak menemukan penduduk Malaysia yang tak berjilbab. Bahkan di ibu kota Malaysia pun tak pernah kujumpai pria dan wanita terlihat bermesraan. Salah seorang temanku di conference berkata, bahwa beberapa negara bagian di Malaysia bahkan memiliki aturan langsung menikahkan warganya ketika ketahuan sedang berduaan. Bahkan ada polisi khusus yang mengawalnya. Benarkah hal itu?

CausewayBay Road, Hong Kong

Tanpa terasa, tibalah malam itu aku di Hong Kong. Negara berjuluk One Country One City. Dari jendela pesawat, kerlap kerlip lampu jembatan gantung, Tsing Ma Bridge menyambut pandangan mataku. Jembatan ini adalah jembatan gantung terpanjang ke-9 di dunia. Namun dikenal paling mewah dan modern di kelasnya karena memiliki jalur kereta api di atasnya, di antara 6 jalur kendaraan yang ada di atasnya. Jembatan yang menjadi penghubung antara Chep La Kok Island, sebuah pulau buatan yang hanya berisi bandara dengan Kepulauan Hong Kong. Iya, bayangkan satu pulau berisi satu bandara besar. Lagi-lagi aku menggumam, Kapankah Indonesia mampu memilikinya?

5 hari aku berada di sana, mengikuti conference,dan di sini aku jauh menemukan keanekaragaman yang banyak dibandingkan dengan konferensi sebelumnya di tingkat ASEAN. Sebab konferensi ini tingkat Asia. Banyak sekali link dan kenalan baru yang aku peroleh dari konferensi ini. Ah, lagi-lagi barangkali aku bicara soal makanan. Berbeda sebelumnya dengan di Malaysia, di sini aku melakukan penghematan besar-besaran. Di samping itu, di negara ini cukup sulit menemukan makanan halal. Di sebuah negara yang kaum muslim adalah minoritas. Maka aku menjadi cukup akrab dengan memasak nasi sendiri ditambah abon dan mie instan.

Pun demikian dengan ibadah. Barangkali ini pertama kalinya aku shalat di antara balik spanduk dan loker tempat sepatu. Manakala di tempat konferensi aku bertanya kepada panitia, dan mereka tak memiliki ruang ibadah. Hingga akhirnya kubentangkan jaketku di tempat yang sekiranya cukup sepi dari orang-orang untuk melaksanakan Shalat. Lalu bagaimana rasanya jika 5 hari tak mendengar suara azan sama sekali dari masjid? Pun demikian di Chep La kok Airport di mana di bandara yang menjadi bandara salah satu terbesari di dunia, aku tak menemukan Musholla di terminal keberangkatan pesawatku. Aku melihat peta penunjuk arah, dan adanya hanya di terminal yang lama, dan cukup jauh aku menjangkaunya sementara waktuku tak lama untuk segera berangkat. Ah, lagi-lagi aku berkata, “Aku Merindukan Indonesia”.

Konferensi selesai, dan kembalilah aku ke Indonesia. Sepulang dari sana, sempat transit satu hari di Changi Airport, Singapura. 10 hari berkelana di tiga negara telah membuat jiwa dan raga ini terkuras. Singkat cerita kembalilah aku ke Surabaya pada 5 Februari 2015.

Ah, namun itu hanya sebentar, karena lima hari kemudian, Allah berkehendak memanggilku ke RumahNya. Alhamdulillah, tepatnya pada tanggal 10 Februari hingga 24 Februari, aku bersama keluarga melasanakan umroh ke Baitullah. Ekspektasiku di awal, ah inilah barangkali puncak dari segala kerinduanku kepadaNya.

Jabal Rahmah, Arafah

8 hari pertama kuhabiskan untuk beribadah di Madinah. Bagaimana tidak nikmat manakala aku bisa melaksanakan shalat lima waktu di masjid nabawi, tempat Rasulullah dulu berdakwah. Rasanya atmosfer di sana adalah atmosfer untuk beribadah. Tidak pernah terbayangkan sebelumunya aku mampu bertahan dalam dzikir, tadarrus dan doa, dari pukul setengah 2 malam hingga setengah 8 pagi di Raudhah, Taman yang kan dalam sebuah riwayat dikatakan kan terangkat menuju surgaNya kelak di hari kiamat. Taman yang terletak antara mimbar dan rumah Rasulullah dahulunya.

Lalu lima hari sesudahnya, kuhabiskan di Makkah. Kota tempat Masjidil Haram berada. Kali ini aku takjub melihat masjid yang teramat besar, bahkan cukup melelahkan jika kita berjalan mengelilinginya. Dan di sini betapa aku merasa bersyukur telah menunaikan umroh wajib, dan luruh lah kewajibanku untuk umroh. Walau begitu bukan berarti tak ada keinginan untuk kembali suatu saat nanti.

Hingga akhirnya selesai rangkaian ibadahku bersama keluargaku. Kami kembali, menyisakan berjuta cerita kebersamaan yang telah lama kurindukan. Seumur hidupku belum pernah aku berwisata jauh bersama keluarga, sekalipun sekedar berlibur ke tempat wisata selama itu. Mungkin hanya pulang kampung ke Mojokerto saja. Itu yang seringkali terkadang membuatku iri ketika teman-temanku berlibur ke bandung, jakarta, bali, atau ke tempat lainnya bersama satu keluarganya. Namun hari itu aku paham, bahwa Allah memiliki rencana indah yang tersembunyi dan telah terpendam sekian lama. Adakah wisata terindah selain wisata menuju rumahNya?

28 Februari aku pulang. Kembali ke Indonesia. Setelah merasakan lelahnya di perantauan. Apalagi cuaca arab yang cukup ekstrem membuat fisik terkadang panas dingin. Kembali ke Rumah Kepemimpinan, kembali menuju amanah di himpunan, kembali berkutat dengan segala kegiatan, dan kembali sibuk dengan pembelajaran.

Ketika rindu mengelilingi dunia telah terseleseikan, ketika rindu kepadaNya telah terlunasi sementara di Tanah Haram, adakah kerinduan lain yang belum terbayarkan? Maka izinkan aku menjawab Rindu kepada Tanah Airku, Indonesia.

Balai Pelatihan Arhanud, Kenjeran

Di sela menjadi panitia pelatihan

22.55

Categories: Puisi | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: