Tangguh

Berawal dari rasa ragu dahulu, hingga saat ini berubah menjadi syukur terhadapmu. Sebab kamu tidak jua melebur, tidak juga jatuh. Sekalipun di sisimu tak ada lagi tiang-tiang yang terpancang seperti dahulu. Bahkan di bawahmu lumut-lumut hijau itu terus menggelayutimu, hingga kian hari mereka kian berisi. Suara – suara miring tak pernah berhenti memenuhi pendengaranmu, sementara lumut-lumut yang kau rawat dan kau bersedia menjadi tempat singgah mereka kian hari kian besar. Mereka tumbuh menjadi bunga-bunga yang bermekaran, dan semakin menjauh darimu. Kembali pulang menebarkan semerbak yang dulu pernah kau berikan kepada mereka. Seakan lupa akan dahulu tempat mereka dibesarkan… tempat mereka dipersatukan. 

Tapi kamu kian tangguh. Izinkan satu kata ini ku-ukirkan untukmu. Tapi kamu kian tulus, izinkan kata ini melengkapimu. Tapi kamu sampailah akhirnya pada rapuh. Sekalipun guratan wajahmu kian sendu, namun senyummu takkan pernah luntur menemani wajahmu. Ada keterpaksaan yang kadang barangkali menodai senyuman itu, namun kamu tetaplah kamu, barangkali kami sudah terlanjur menghormatimu dengan cara yang tak pernah kau ajarkan kepadaku. 

Hingga Tuhan berkehendak mencekik pita-pita melodimu, Dalam semerbak yang terus kami tebar, kau terus memanggil-manggil lumutmu yang kini telah menjadi bunga. Hingga suara-suara itu tak lagi terdengar, sampai kami sadar bahwa panggilan itu kian hari kian melemah. Hingga secepat kilat bunga itu gugur dengan semerbaknya. Mengelilingimu bak putri raja. Seolah tanpa salah…seolah tanpa lupa. 

Kepadamu barangkali aku hanya mengucap maaf dan salam rindu. Masih terekam ingat bagaimana dulu kau menyirami kami, lumut-lumut itu dengan penuh kesabaran. Sekalipun barangkali tutur kata kami kerap membuatmu membisu, bahkan pergi untuk sementara waktu. Namun itulah kami, dan sebab itulah cinta punya cara tersendiri dalam mengungkapkannya. Sebab cinta tak terbatas dalam raga yang menyertai, namun ada pula jiwa yang terus membersamaimu dalam doa kami tuk illahi rabbi. 

Maka jadilah dirimu tangguh, lebih tangguh tanpa kami. Sebab kamu bukanlah seorang kartini bagiku. Ia hanyalah gadis yang barangkali beresembunyi dalam surat-suratnya yang disertai tetesan air mata. Sebab kamu setangguh Cut Nya’ Dien, yang turun ke medan laga tuk perjuangkan negeri ini di masa lampau. Sebab kamu setangguh Laksamana Malahayati. Sosok pelaut wanita pertama dalam dunia yang mendapat gelar laksamana.

Hingga saat ini, Izinkan aku menghitung hari, hingga pengabdian itu akan segera terakhiri, sekalipun banyak kekhilafan yang terjadi. Namun kami percaya hakikat mengabdi bagimu barangkali takkan berhenti di sini. Sebab dirimu terlalu berharga jikalau tak mengabdi seperti dulu manakala membersamai kami. 

Menanti nanti kebersamaan itu terulang kembali barangkali itu mustahil dan nyaris tak mungkin. Namun aku percaya, dan barangkali sahabat-sahabatku percaya jika kebersamaan itu kan kembali terajut manakala kelak tali hati ini terpersatukan dalam membangun negeri ini. Seindah aristektur cinta yang terus tergaungkan dahulu tiada henti. 

Categories: Tulisan | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: