Tatapan Sendu

Tak terasa senja telah tiba. Siluet mentari mulai terbenam di ufuk barat. Suara burung gagak terdengar memenuhi angkasa. Terlihat semburat kemerahan yang mempercantik senja ini. Sementara aku seperti biasa selalu menghabiskan senja ini setiap hari di atas pelataran rumahku. Menerawang angkasa barangkali menjadi hobiku akhir-akhir ini, sebab di sana tersimpan jutaan warna yang menjadi inspirasiku menjalani hidup ini.

Pandanganku tertuju ke sebuah rumah yang terletak di depan rumahku. Sekilas tampak bayangan seorang gadis dengan kuncir rambut satu di kepalanya. Rumah itu dianggap misterius oleh warga di perumahanku. Ya, sejak 5 tahun yang lalu usai pemilik rumah itu, Bapak Soetjipto menghembuskan nafas terakhir, kini tinggallah seorang gadis berkuncir satu itu sendirian, barangkali sebatang kara hidupnya. 10 tahun yang lalu saat aku masih kecil, Ibu Yeni, istri dari Pak Soetjipto telah meninggal dunia karena serangan jantung. Berbeda dengan Pak Tjip – sapaan akrab beliau – yang meninggal justru mendadak, tak diketahui penyebabnya hingga saat ini. Keluarga ini yang sebelumnya dikenal terbuka, kini menjadi begitu tertutup manakala di rumah itu hanya tinggal seorang anaknya sendiri.

Sinta namanya. Gadis berkuncir satu itu seusia denganku. Aku masih ingat manakala kecil dahulu sering bermain bersamanya, juga bersama kawan-kawan sekomplek kami. Bersepeda menjadi permainan favorit kami, apalagi jalan di depan perumahanku cukup besar. Masih ingat diriku sempat terperosok ke got, sempat pula kami bertengkar manakala sepeda kami bertabrakan hingga bahkan bertindihan, bahkan sinta sendiri pun sempat terjatuh dan mengalami memar hebat di tangannya. Namun itu semua tak membuat kami kapok, justru persahabatan kami semakin berwarna, seelok warna langit yang menghiasi senja ini.

Sinta yang dulu bukanlah seperti Sinta yang sekarang. Semenjak ayahnya meninggal dunia, ia cenderung menutup diri di rumah tersebut. Ia hanya keluar di pagi hari setelah shubuh, dan pulang tepat setelah Ashar biasanya. Terkadang sampai larut malam pun, rumahnya masih terlihat gelap. Sempat tengah malam aku terbangun, dan melihat pagar rumahnya terbuka perlahan dan sosok gadis berkuncir itu baru masuk sembari menaruh motornya. Jangankan keceriaan wajahnya, aku pun tak pernah lagi melihat raut wajahnya dengan jelas. Sementara kawan-kawan kompleksku yang rata-rata sudah jauh lebih berusia daripadaku, kini mereka semua di luar kota, meneruskan jenjang pendidikannya di perguruan tinggi. Ya, persahabatan kami bertahun-tahun yang lalu, seakan menguap tak berbekas. Seharusnya kami peduli, namun tak ada usaha sedikitpun dari kami, bahkan diriku untuk hanya sekedar menyapa.

***

Adzan Subuh berkumandang dan pergilah aku ke masjid, seperti biasa dengan ayahandaku dan ibundaku, juga ketiga adikku. Aku keluar rumah terakhir karena sedikit terlamat terbangun. Brak! Kututup pintu rumah dengan keras saking buru-burunya diriku. Aku berlari, membuka pagar, menutupnya, dan berlari sempoyongan menuju masjid. Sekilas kutatap rumah Sinta, dan lampu rumahnya sudah terlihat terang. Kali ini tak ada bayangan dirinya. Bergegas aku berlari menuju masjid. Sembari merasakan dinginnya pagi kupaksa tuk menembusnya.

Pukul 05.30, dan aku kembali dari masjid bersama keluargaku. Sekilas aku lirik rumah itu, dan lampunya sudah mati semua. Tepat saat aku sampai di depannya, terbukalah pagar rumah itu, dan aku terperanjat. Keluarlah sosok Sinta dengan kuncir rambutnya. Aku terkejut, melihat sosok fisiknya jauh berbeda daripada dulu manakala masih kecil. Ia sepertinya pura-pura mengacuhkanku. Dengan rasa penasaran yang tinggi kuberanikan menyapa, “Sinta, apa kabar?” Ia menoleh kepadaku. Dan betapa terkejutnya diriku melihat sosok wajah yang begitu berbeda. Sosok yang barangkali telah memendam kesedihan selama bertahun-tahun. Ia hanya melihat sekilas, lalu berpaling. Pergi. 

Categories: Tulisan | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: