Boleh Tampil di Masjid asal Ada Pendamping Hidup

Menyabet Juara I Lomba Khutbah Jumat tingkat nasional menambah deret panjang prestasi pada diri Mushonnifun Faiz Sugihartanto. Siswa SMAN 3 tersebut memang sudah akrab dengan prestasi di bidang olah bicara. – HAPPY DY

“Ma’asyirol muslimin rahimakumullah….perkenankanlah, pada siang hari ini, khatib akan menyampaikan sedikit ulasan berjudul “Apresiasi Islam terhadap Muslim yang Berilmu dan Berkarakter. Ulasan ini perlu saya sampaikan, karena begitu besarnya apresiasi Islam terhadap ilmu pengetahuan. Khatib akan mengajak meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT…”

Kalimat demi kalimat itu keluar dari mulut Faiz. Ia dengan rasa percaya diri bahkan terkesan cuek saat diminta Radar untuk mengulang kembali apa yang disampaikan pada lomba khutbah Jumat dalam ajang pentas PAI (Pendidikan Agama Islam) tingkat Nasional 2011. Tanpa rasa malu, Faiz menyampaikan materi lomba yang dibawakan saat lomba.

Para guru dan rekan-rekannya yang kebetulan berseliweran di ruang lobby, tak mengusik konsentrasi Faiz. Dengan suara lantang dan pandangan lurus ke depan, seakan-akan Faiz menyeleseikan satu kalimat pembuka tersebut. “Khutbah itu harus dibawakan dengan serius, tapi tidak tegang. Jadinya ya begitu tadi. Kalau ada joke-joke segar itu namanya ceramah,”ucap Faiz dengan ramah.

Pada lomba khutbah yang diselenggarakan Kementerian Agama RI pertengahan Juli lalu, Faiz menyabet juara I . Bagi Faiz, prestasi pada lomba yang berlangsung di Wisma Haji Bekasi Barat itu, bukan kali pertama. Siswa kelas XII IPA-7 tersebut sudah sering mengukir prestasi di bidang seni bicara. Lebih dari 40 piala dikoleksi yang tidak jauh dari kemampuan bicaranya. Mulai dari membaca puisi, pidato, ceramah, dan khutbah Jum’at. “Kalau boleh saya sebut, prestasi khutbah (juara I) ini sebagai perjalanan prestasi tertinggi saya selama ini. Tahapannya baca puisi, pidato, ceramah, dan khutbah,”ucap Faiz di ruang lobby SMAN 3, kemarin.

Bisa ikut lomba khutbah memang begitu dinanti-nantikan anak pasangan Ali Imron – Nurul Khoiriyah itu. Sebab momennya jarang ada. Selain itu penyelenggaranya juga terbatas. Berbeda dengan lomba-lomba yang bersifat umum seperti halnya musik, band, atau lomba di bidang akademik. “Mungkin itu yang membuat saya merasa senang. Lomba Khutbah jarang-jarang ada,”kata siswa kelahiran 31 Januari 1994 tersebut.

Keberhasilan Faiz menyabet Juara I itu setelah berhasil mengungguli 32 peserta lain yang merupakan duta masing-masing provinsi di Indonesia. Tahapannya, Faiz yang dinyatakan lolos dari tingkat Provinsi Jatim melenggang ke level nasional.

Jumlah peserta pada awalnya ada 33. Namun akhirnya hanya diambil 10 besar untuk diadu di Babak Final. “Rasanya deg-degan juga karena harus menghadapi 9 terbaik. Motivasi saya saat itu, yang penting tampil sebaik mungkin,”ungkap sulung dari dua bersaudara tersebut.

Apalagi Faiz sudah sedikit paham tentang seluk beluk lomba khutbah. Artinya secara performa semua peserta sudah pasti mencuri perhatian juri. Lantas ia mulai berpikir mencari sesuatu yang berbeda dengan peserta lainnya.

Pemikiran Faiz tertuju pada konten khutbah yang dibawakan. Pokoknya saya harus beda. Kebetulan saya dibimbing langsung oleh Pak Sulthon (Kasek SMAN 3) dan Pak Nasikin (Guru Agama Islam SMAN 3). Saya pun mendapat arahan yang maksimal,”ucap siswa yang memiliki hobi menulis tersebut.

Salah satu arahan yang ikut mengantarkan juara itu pada poin pemilihan tema. Kebetulan panitia lomba menyediakan 10 macam panduan tema yang bisa dipilih oleh peserta. Sesuai arahan Sulthon dan Nasikin, dia menjatuhkan pilihan khutbah pada tema yang mengusung tentang pendidikan karakter.

Alasannya, pendidikan karakter sedang hangat-hangatnya dimasukkan pada materi pembelajaran. “Materi khutbah yang saya bawakan kesimpulan besarnya ada empat elemen membangun pendidikan karakter melalui Shalat,”terangnya.

Garis besarnya adalah menekankan kecerdasan spiritual, Shalat hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Kedua, dengan Shalat mengembangkan kecerdasan emosional. Dalam hal ini, nilai-nilainya melatih kesabaran. Ini ditunjukkan sikap jamaah yang tidak boleh mendahului imam.

Kandungan kecerdasan ketiga menyangkut kecerdasan sosial. Dengan shalat ada proses ta’aruf, yakni tambahan teman karena kehadiran jamaah lain. Keempat, shalat menekankan kecerdasan personal, misalnya disiplin menjalankan Shalat tepat waktu. “Mungkin bobot konten khutbah saya yang membuat juri memutuskan saya juara pertamanya,”kelakar siswa berlesung pipit tersebut.

Tapi sayang kendati kemampuan berkhutbah Faiz sudah diakui di tingkat nasional, tapi tidak lantas ia bisa menyalurkan talent-nya. Sampai sekarang belum sekalipun dia memberikan khutbah Jum’at. Paling ia hanya tampil dalam sesi ceramah pada kegiatan-kegiatan keagamaan di sekolah atau di tempat tinggalnya. “Secara mental dan materi khutbah sebenarnya sudah siap. Semata-mata karena nasehat dari Pak Sulthon, katanya, saya belum menikah. Pandangan masyarakat saja karena memang tidak ada dasar hukumnya (khatib harus sudah menikah, Red),”jelasnya.

Terhadap nasihat itu, dia tak mau mendebatkan panjang lebar. Justru ia mengambil hikmah positifnya. Yakni, ada saatnya nanti ia bisa berkhutbah. Selama masa menunggu ini, dia memiliki lebih banyak waktu untuk belajar, baik tentang agama maupun performa khutbah yang baik. “Ada saatnya nanti, saya juga lebih matang. Yang penting harus terus belajar,”tandasnya.

Malah siapa tahu ada ajang lomba khutbah lagi. Dengan begitu, dia bisa kembali menyalurkan kemampuannya. Itung-itung ibarat sambil menyelam minum air. Maknanya, ikut lomba untuk mengasah kemampuan dan tidak menjadi peserta penggembira alias mendapat juara. Apalagi selama mengikuti lomba dan menggenggam juara, Faiz jarang pulang dengan “tangan kosong.” Kalau berhasil juara kan dapat piagam, piala, dan itung-itung uang pembinaan. Lumayan lho, meski saya tidak menjadikan uang pembinaan sebagai target utama,”katanya.

Ia mencontohkan dari lomba kali terakhir yang diikuti. Selain mendapat piala, piagam, dia mendapat uang pembinaan senilai 7 juta. Dan setiap kali turun lomba yang mendapat uang pembinaan, Faiz menyimpannya.”Jangan ditanya jumlah tabungan dari lomba. Sebut saja puluhan juta,”ucapnya seraya tertawa.

Uang tersebut sebagian digunakan untuk membiayai kebutuhan pribadinya, seperti untuk membeli laptop, handphone, dan buku-buku kesukaannya. Sebagian lagi sudah disiapkan Faiz untuk biaya kuliah nanti. Sebab satu tahun ke depan, Faiz sudah meninggalkan bangku SMA. “Tabungan dari uang pembinaan lomba kan bisa meringankan beban Papa dan Mama. Saya bercita-cita kuliah di luar Malang. Mudah-mudahan diterima di PTN favorit,”ucapnya. (*/ziz)

Categories: Dai Cilik | Tags: , | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Boleh Tampil di Masjid asal Ada Pendamping Hidup

  1. Wah … keren, rupanya anda banyak prestasi sejak kecil ya
    sukses selalu mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: